Jumat, 20 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Harga Kayu Makin Melonjak, Impor Jadi Pilihan

Senin, 16 Apr 2018 13:40 | editor : Abdul Rozack

MINIM BAHAN BAKU: Pengunjung melihat produk mebel yang dipamerkan disela-sela pameran di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya beberapa waktu lalu

MINIM BAHAN BAKU: Pengunjung melihat produk mebel yang dipamerkan disela-sela pameran di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya beberapa waktu lalu. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mengakui bahwa jumlah pasokan kayu di dalam negeri saat ini semakin minim. Selain itu, harga kayu di Indonesia kini kian melonjak.

Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur mengatakan, kondisi kayu di Indonesia sekarang bisa dikatakan kurang terkelola dengan baik untuk sistem tata niaganya.  “Seharusnya bisa diperbaiki agar para pelaku industri mebel tidak perlu melakukan impor kayu. Porsi kayu yang diimpor saat ini sekitar 25 – 30 persen. Terutama jenis oak, poplar, maple dari USA dan pinus dari New Zealand,” tuturnya kemarin (15/4).

Menurutnya, faktor para pelaku usaha melakukan impor kayu selain karena kurangnya bahan baku untuk produksi, juga disebabkan akses bahan baku kayu di dalam negeri masih sulit. Kemudian panjangnya distribusi membuat harga kayu semakin tinggi sehingga industri merasa kesulitan. Selain itu, pemahaman mutu kayu siap pakai dari produsen masih dibawah standar international. 

“Dan yang terakhir karena program tanam kembali tidak terencana dengan pasti. Sehingga kita kekurangan pasokan,” jelasnya.

Sobur memaparkan, harga kayu jati di Indonesia memiliki banyak variasi tergantung range mutunya. Untuk jati termurah harganya sebesar Rp 7 juta. Lalu jenis harga log veneer dengan diameter 40 – 50 cm bisa sampai Rp 26 juta. 

”Kemudian yang diameter 60 cm bisa sampai Rp 40 juta,” ungkap Sobur.

Harga tersebut berbeda jauh dengan kayu yang diimpor oleh industri untuk memenuhi bahan baku. Kayu yang banyak diimpor berjenis oak dan pinus dengan harga berkisar antara USD 900 – USD 1.600. 

“Kualitas kayu impor sangat memenuhi syarat dan harganya terjangkau. Perhutani sebagai salah satu pelaku utama diharapkan secepatnya bisa memperbaiki kinerjanya. Kami akan lakukan sinergi karena anggota HIMKI adalah penyerap paling besar dari Perhutani,” tegasnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah selaku pemegang otoritas regulasi untuk membuat kebijakan yang bisa mendukung pertumbuhan usaha dengan membuang aturan yang menghambat pertumbuhan industri. Kemudian aturan yg mempersulit impor barang untuk kepentingan industri dengan tujuan ekspor dimudahkan.  

“Bukan dengan membuka keran ekspor log karena itu bertentangan dengan Undang-Undang Industri No 3 tahun 2014 yang mewajibkan hilirisasi industri,” pungkas Sobur. (cin/rud)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia