Jumat, 20 Jul 2018
radarsurabaya
icon-featured
Features
Paksa Konsumen Pakai Pertalite

Premium Dihabisi Pelan-Pelan

Sabtu, 14 Apr 2018 22:22 | editor : Abdul Rozack

Grafis: Premium Dihabisi Pelan-Pelan

Grafis: Premium Dihabisi Pelan-Pelan (Grafis: Fajar)

Perlahan tapi pasti, premium ‘terpaksa’ mulai ditinggalkan konsumen. Bukan karena konsumen tak suka, tapi disebabkan stok premium yang secara perlahan mulai dikurangi oleh Pertamina. 

HERNINDA CINTIA K-Wartawan Radar Surabaya

Agung Pambudi kecewa. Pria yang tinggal di kawasan Tambak Sawah, Surabaya Timur itu mendapati pengumuman bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pandugo, habis. Padahal BBM di mobilnya sudah menipis. “wah, harus beli pertalite dong,” keluh Agung.

Saat itu ia hanya membawa uang Rp 100 ribu. Kalau membeli premium, maka ia akan mendapat 15,25 liter. Tapi, karena yang ada pertalite akhirnya ia harus mendapat BBM lebih sedikit. Harga pertalite per 14 April adalah Rp 7.800. Akhirnya Agung harus puas mendapat 12,82 liter saja. Ada selisih sekitar 2,43 liter. “Kalau bagi orang kecil seperti saya, angka segitu (2,43 liter) ya besar artinya,” keluhnya.

Menurut Agung,  bukan kali ini saja ia sering mendapati SPBU yang stok premiumnya habis. Sudah beberapa kali. “Mungkin sudah tiga-empat kali ini,” ungkapnya. 

Hal seperti itu tidak dialami Agung saja. Masih banyak konsumen BBM yang mengalaminya. Tidak hanya di Surabaya saja, tapi juga di kota-kota lain. 

Apa yang dialami konsumen itu ternyata tidak bisa dilepaskan dari usaha PT Pertamina MOR V yang terus mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM non-subsidi. Artinya, secara perlahan masyarakat diminta untuk segera beralih dari konsumsi bahan bakar jenis premium ke bahan bakar dengan RON minimal 90, seperti pertalite, pertamax, bahkan Dex. 

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR V, Rifky Rakhman Yusuf mengatakan, hal tersebut sebagai salah satu upaya pengurangan konsumsi BBM jenis premium. “Sebab, BBM jenis premium hanya memiliki RON 88 dan punya jarak tempuh hanya 11 kilometer per liter,” ungkapnya.

Sehingga, menurutnya, dengan kondisi kendaraan-kendaraan saat ini yang mesinnya telah menggunakan teknologi baru, tentu bahan bakar yang dibutuhkan pun bukan lagi premium. Tetapi sudah harus di atas premium. 

Rifky menyampaikan, total lembaga panyalur bahan bakar atau SPBU di Jawa Timur ada 878. Lembaga penyalur bahan bakar atau SPBU yang masih menjual premium di Jawa Timur saat ini sebanyak 540 SPBU. Itu artinya SPBU di Jawa Timur yang sudah tidak menjual premium saat ini sebanyak 338 SPBU. “Sebenarnya sudah sejak lama, banyak masyarakat yang telah meninggalkan premium. Jadi nanti pelan-pelan akan bertambah lagi SPBU yang sudah tidak menjual premium,” imbuhnya.

Di sisi lain, Pertamina MOR V terus menyelanggarakan program apresiasi kepada pelanggan yang diselenggarakan satu kali dalam dua minggu. Program tersebut merupakan strategi yang pas untuk mensosialisasikan bahwa saat ini kendaraan membutuhkan bahan bakar dengan RON minimal 90. Sedangkan BBM jenis premium memiliki RON 88 dengan rasio kompresi 7:1-9:1, dengan jarak tempuh 11 kilo meter per liter. 

Researh Octane Number (RON) ialah angka yang menunjukkan seberapa tinggi tekanan yang akan diberikan sampai pada akhirnya bahan bakar akan terbakar secara spontan. Mesin dengan kompresi yang tinggi membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi. “Untuk jenis pertamax mempunyai RON 92 dengan rasio kompresi 9:1-10:1, dengan jarak tempuh 13 kilo meter per liter, dan Dex mempunyai RON 95 rasio kompresi 10:1-11:1, dengan jarak tempuh 14 kilo meter per liter. Dua jenis BBM ini lah yang dibutuhkan kendaraan saat ini,” lanjutnya.

Rifky menambahkan, dampak RON 88 bagi lingkungan dan kesehatan, polusi udara, nitrogen dioksida menyebabkan sakit paru-paru, hidrokarbon pemicu kanker, dampak buruk untuk otak bayi dan orang tua. “Melihat kondisi saat ini, target tahun ini secara bertahap akan terus dikurangi. Namun, sejak lama pun telah banyak masyarakat yang meninggalkan premium. Jadi nanti akan bertahap bertambah SPBU yang sudah tidak menjual premiumnya,” imbuhnya.

Menurutnya, Pertamina terus mendorong penggunaan BBM yag berkualitas dan ramah lingkungan. Kedua keunggulan tersebut terdapat di produk-produk, seperti pertalite, pertamax, pertamax turbo, dexlite maupun pertamina dex. Terutama dengan kondisi kendaraan-kendaraan sekarang yang mesinnya telah menggunakan teknologi baru, tentu bahan bakar yang dibutuhkan pun bukan lagi premium tapi sudah harus di atas premium. “Jika tidak cocok knocking atau suara ngelitik pada mesin disertai getaran, ruang mesin kotor atau pembakaran tak sempurna sehingga menimbulkan kerak. Mesin rusak karena mesin jadi lebih panas sehingga membuat piston rusak dan berlubang, kendaraan semakin sering bermasalah dank e bengkel, semakin bermasalah semakin turun harga kendaraan,” papar Rifky.

General Manager Pertamina MOR V Ibnu Chouldum menjelaskan, sejak dua tahun lalu Pertamina telah mengambil kebijakan untuk mengurangi pasokan premium di 6 ribu SPBU milik mereka yang tersebar di Indonesia, termasuk wilayah kerja MOR V. “Sejak dua tahun lalu, pasokan premium di wilayah kerja kami sudah dikurangi 20 persen. Dan kebijakan pengurangan ini akan terus dilakukan bertahap,” katanya.

Menurutnya, dalam menjual BBM penugasan seperti premium, perseroan menjalankan apa yang tertera dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 191 Tahun 2014. Di mana penjualan BBM penugasan diwajibkan di wilayah luar Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). “Hal itu karena premium tak lagi BBM bersubsidi. Premium dikategorikan sebagai bahan bakar penugasan,” katanya.

Sementara itu terkait dengan target kinerja pada tahun 2018, Ibnu mengatakan pihaknya menargetkan adanya peningkatan rata-rata konsumsi BBM mencapai 20 persen. “Tahun lalu, untuk pertalite saja berhasil mengalami kenaikan konsumsi signifikan dari rata-rata konsumsi BBM di Pertamina MOR V yang sebesar 2.111.028 KL,” paparnya.

(sb/cin/jek/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia