Sabtu, 21 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Penurunan Kualitas Mata Air di Jawa Timur Harus Diwaspadai

Senin, 19 Mar 2018 22:29 | editor : Abdul Rozack

Ilustrasi

ilustrasi (mata air brantas)

SURABAYA-Wilayah pegunungan di Jatim masih menjadi andalan sumber mata air untuk daerah lain. Namun, semakin tahun sumber mata air menurun. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim mencatat, salah satu penurunan terjadi di Sumber mata air Brantas, Batu. 

"Khusus untuk sumber air di Brantas itu saat ini tinggal 50 persen kualitasnya. Tapi sekarang sudah semakin membaik. Kita memang berharap terus ada peningkatan perbaikan kualitas. Memang sudah semakin membaik. Karena ada konservasi," ujar Kepala DLH Jatim Diah Susilowati, Minggu (18/3).

Diakuinya, air menjadi kebutuhan utama manusia. Maka dari itu, perlu ada pelestarian air. Pemprov Jatim sebenarnya sudah mempunyai peraturan daerah yang mengatur agar wilayah dengan radius 200 meter dari mata air ditanami. Tujuannya yaitu konservasi air terjaga. 

Upaya pemprov pun tak berhenti disitu, program kampung iklim berupa adaptasi atau mitigasi pun digalakkan. Fungsinya pengendalian air ketika kekeringan dan banjir saat musim hujan. Yakni dengan membuat sumur resapan. 

"Ada sumur injeksi untuk pedesaan serta biopori di perkotaan. Ada desa atau kampung iklim yang diusulkan oleh provinsi. Dan sekarang sudah terbentuk baik di perkotaan maupun dipedesaan," jelasnya. 

Termasuk Surabaya, ada beberapa kampung yang didaulat menjadi kampung iklim. Gerakan ini melakukan pemanenan terhadap air hujan. Caranya, seperti di kota pahlawan membuat biopori. Lubang-lubang dibuat untuk penampungan air hujan. 

"Sumur injeksi dan biopori itu cukup berhasil mengurangi banjir dan meningkatkan air. Dengan begitu cadangan air semakin banyak," bebernya. 

Diah mensayangkan banyaknya air yang terbuang sia-sia. Padahal disatu sisi, kualitas air tanah semakin menurun. Oleh karenanya, dirinya menghimbau agar masyarakat melakukan recycle dengan pemanfaatan air hujan. Salah satunya dengan pemanenan air hujan. Dimana air dari talang masuk ke lubang, sumur injeksi dan biopori. Sehingga tidak terbuang sia-sia. 

"Kami harap diperkotaan biopori tidak lagi diameter 20 centimeter, sekarang diperbesar jadi lubang besar. Jadi 50 centi meter," pungkasnya. (bae/rud)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia