Rabu, 18 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Kian Melemah, Bisnis Resto dan Kafe Diprediksi Turun 10 Persen

Rabu, 07 Mar 2018 16:33 | editor : Abdul Rozack

STAGNAN: Sejumlah konsumen menikmati sajian di salah satu kafe dan resto di Surabaya, Selasa (6/3).

STAGNAN: Sejumlah konsumen menikmati sajian di salah satu kafe dan resto di Surabaya, Selasa (6/3). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Asosiasi Pengusaha Restoran dan Kafe Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur memprediksi bisnis restoran dan kafe di Surabaya sepanjang tahun 2018 ini bakal turun 10 persen dibanding dengan tahun sebelumnya. 

“Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun lalu, di mana bisnis resto dan kafe juga melemah,” kata Arjono Kuntjoro, Kabid Humas DPD Apkrindo Jawa Timur kepada Radar Surabaya, Selasa (6/3). 

Arjono menjelaskan, melemahnya bisnis resto dan kafe disebabkan karena dua faktor, yakni terus bertambahnya pemain baru dalam bisnis restoran dan kafe, dan faktor ekonomi dunia yang tidak dapat diprediksi serta dampak dari ketidakepastian politik di tahun pilkada serentak, dan pilpres tahun depan. 

Menurutnya, kondisi ini memungkinkan terus menurunnya kinerja bisnis restoran dan kafe terlebih lagi seiring dengan bertambah banyaknya pemain bisnis resto dan kafe.

 “Pelaku bisnis di Surabaya saat ini seharusnya berinvestasi lagi di sektor lain dan berhenti untuk menambah gerai,” terangnya.

Dia menambahkan, saat ini dari segi omzet diyakini akan menurun. Tapi dari segi penambahan gerai pemain baru akan bertambah ramai. 

Terkait dengan turunnya kinerja bisnis restoran dan kafe, Arjono menerangkan, adanya strategi khusus yang harus dilakukan oleh pebisnis. Seperti mempertahankan jenis makanan yang ada, mempertahan pelayanan, serta meningkatkan kreativitas dalam menambah inovasi makanan yang baru secara berkelanjutan. Hal ini untuk mengimbangi potensi bertambahnya restoran baru yang mempunyai variasi dan jenis makanan yang lebih inovatif.

 “Saat ini untuk pilihan makanan, ke depannya akan semakin banyak dan bervariasi jenis makanannya maupun negara asalnya karena kami tidak dapat membendung masuknya semua jenis makanan dari negara luar di dalam era pasar  bebas,” kata dia. (cin/hen)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia