Jumat, 20 Jul 2018
radarsurabaya
icon-featured
Surabaya

Kembar Siam Salma-Sofia Sudah Bernafas Normal, Libatkan 50 Tim Dokter

Jumat, 12 Jan 2018 08:18 | editor : Abdul Rozack

TERUS DIPANTAU: Dari kiri: Dokter Senja Baiduri, Dokter Agus Harianto dan Dokter Harry Febryanto saat melihat kondisi bayi kembar siam dempet dada Sal

TERUS DIPANTAU: Dari kiri: Dokter Senja Baiduri, Dokter Agus Harianto dan Dokter Harry Febryanto saat melihat kondisi bayi kembar siam dempet dada Salma-Sofia. (ANGGUN ANGKAWIJAYA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Kondisi kesehatan bayi kembar siam Salma-Sofia semakin membaik dan stabil. Di hari ke empat usia kelahirannya, Kamis (11/1), tim dokter melepas NCPAP (Nasal Continuous Positive Airway Pressure) dari hidung dan mulut mereka. NCPAP adalah alat bantu nafas dengan tekanan tertentu yang dipasang di hidung dan mulut.  Mereka terus dipantau oleh tim dokter di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) GBPT (Gedung Bedah Pusat Terpadu) lantai 2 RSU dr Soetomo. 

Ketua tim penanganan bayi kembar siam Salma - Sofia, dokter Agus Harianto, SpA (K) mengatakan, kembar Salma dan Sofia sudah bisa bernafas normal dan beradaptasi dengan oksigen. Namun mereka masih menggunakan alat bantu nafas biasa dengan tekanan rendah. 

"Saturasi mencapai 99, detak jantung 115 dan tidak ada sesak nafas. Laju nafas normal, antara 40 sampai 60," ungkap Agus saat ditemui di ruang NICU GBPT RSU dr Soetomo, Kamis (11/1). 

Dokter juga memberikan Salma dan Sofia minum air susu ibu setiap empat jam sekali sebanyak 5 cc dengan menggunakan sonde atau spet. "Separuh menggunakan spet, separuh lagi menggunakan sonde. Tujuannya untuk melatih respon menghisap," tambah Agus.  

Agus menambahkan, Salma dan Sofia sudah bisa membuka kedua matanya. Berat badan kedua bayi ini turun karena volume omphalocele mengecil. Kini berat badan si kembar menjadi 4.150 gram dari sebelumnya 4.395 gram. 

"Berat badan ini masih termasuk normal. Setelah lahir, bayi mengalami penurunan berat badan maksimal 10 persen," imbuh Agus.

Tim dokter RSU dr Sutomo kini tengah mengupayakan memberikan  nutrisi kepada si kembar yang diperoleh dari ASI dan cairan protein tambahan. "Kami hitung proteinnya agar tumbuh kembang mereka tercapai," ucap Agus. 

Selain memberikan nutrisi secara maksimal, dokter juga terus mencegah agar jangan sampai omphalocele pecah dan menimbulkan infeksi. Caranya dengan memantau posisi tidur bayi agar nyaman dan jangan sampai terjadi lecet pada kulitnya. 

Agus menjelaskan, omphalocele yang ada perut Salma dan Sofia nantinya bisa mengering dalam tiga bulan dan menjadi kulit normal untuk menutup luka operasi. “Kalau sudah mengering, jadinya seperti kulit yang baru sembuh dari luka. Tidak ada bulunya,” ujar Agus.  

Agus menyebutkan, operasi pemisahan akan dilakukan jika bayi sudah mencapai usia  10 minggu. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk operasi pemisahan belum bisa ditentukan karena setiap bayi memiliki kasus yang berbeda. 

"Nanti akan digambar tahapan dan tindakan. Ada prinsipnya. Kita juga masih terus mencari kelainan bawaan lainnya. Mereka masih belum lewati masa kritis. Tujuh  hari pertama merupakan masa sangat kritis. Sedangkan masa kritis sampai 28 hari," terang Agus. 

Agar kulit Salma dan Sofia sempurna, mereka akan menjalani operasi bedah plastik rekonstruksi. Operasi bedah plastik ini untuk mengembalikan kulit perut seperti pada bayi normal dan membetulkan posisi buah dada . 

Ada 50 dokter yang dilibatkan dalam tim yang menangani kembar Salma dan Sofia. Mereka terdiri dari dokter anak, neonatologi 16 orang, dokter bedah anak 6 orang, dokter bedah plastik 6 orang, dokter ortopedi 5 orang, anastesi, forensik dan obgin. (ang/rud)

(sb/ang/jek/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia