Minggu, 22 Jul 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya
Beras dan Rokok Jadi Kontributor Terbesar

Penduduk Miskin di Jatim Capai 4,4 Juta

Jumat, 12 Jan 2018 06:05 | editor : Abdul Rozack

ANDIL TERBESAR: Tumpukan beras di salah satu gudang milik Bulog Jatim. Beras bersama rokok kretek filter memberikan andil terbesar pada garis kemiskin

ANDIL TERBESAR: Tumpukan beras di salah satu gudang milik Bulog Jatim. Beras bersama rokok kretek filter memberikan andil terbesar pada garis kemiskinan di perkotaan maupun di pedesaan. (Dokumen Radar Surabaya)

SURABAYA -- Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4.405,27 ribu jiwa atau setara dengan 11,20 persen. Angka tersebut berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur hingga September 2017.

"Persentasenya (penduduk miskin) berkurang hingga 211,74 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret 2017," ungkap Teguh, kemarin.

Penurunan persentase penduduk miskin itu, lanjutnya, terjadi baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan.

"Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun 118,67 ribu jiwa. Sementara di daerah pedesaan turun sebanyak 93,07 ribu jiwa," imbuhnya.

Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan disebut jauh lebih besar jika dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Seperti halnya kebutuhan sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan.

"Kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan itu sendiri tercatat sebesar 73,96 persen. Angka itu tidak jauh berbeda dengan data yang kami himpun di Maret 2017 yang mencapai 73,31 persen," ujar Teguh.

Sementara itu, untuk komoditi makanan, ia menyebutkan bahwa beras dan rokok kretek filter memberikan kontribusi terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Meski demikian, komoditi lain yang juga mempengaruhi daging sapi, gula pasir, telur ayam ras, dagung ayam ras, serta tempe dan tahu.

"Beras memang yang paling besar dengan sumbangan 19,05 persen di perkotaan dan 23,38 persen di perdesaan," tandasnya.

Untuk mengukur kemiskinan, dalam hal ini BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach. Dengan pendekatan tersebut, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. (mif/hen)

(sb/mif/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia