Selasa, 17 Jul 2018
radarsurabaya
icon-featured
Ekonomi
Kemajuan Teknologi Tidak Bisa Dibendung (4)

Pengamat Ekonomi: Atasi Dampat Teknologi dengan Ubah Cara Berpikir

Minggu, 05 Nov 2017 14:20 | editor : Abdul Rozack

KRESNAYANA YAHYA Pengamat Ekonomi

KRESNAYANA YAHYA Pengamat Ekonomi (Dokumen Radar Surabaya)

Sudah tidak zaman lagi meributkan majunya teknologi menggantikan tenaga manusia di industri. Pembicaraan mengenai hal itu sejak dahulu, seharusnya sekarang sudah diantisipasi. "Gaya berpikir 1970-an jangan dipakai. Harusnya memikirkan menghadapi tahun 2020. Orang kalau telah tahu tantangannya begitu, maka harus bangun potensi diri," ujar pengamat ekonomi, Kresnayana Yahya, Sabtu (4/10). 

Dengan begitu, lanjutnya, setiap individu memiliki ketrampilan. Otomatis tidak akan ribut soal lowongan pekerjaan. Sumber daya yang mandiri dalam mendapatkan pekerjaan, maka tak lagi merepotkan pemerintah. Yang dalam hal ini selalu diandalkan untuk menyediakan lowongan pekerjaan.  "Tugas pemerintah mensosialisasikan tentang kemandirian. Bagaimana masyarakat bisa hidup berkelanjutan. Salah satunya lewat pendidikan. Sekarang zamannya berpacu dengan teknologi," urainya. 

Pemerintah, menurut Kresnayana, harus mengarahkan orientasi ke arah tersebut. Pengembangan diri menjadi yang utama. Tidak hanya pada anak muda, namun juga orang di atas usia 40 tahun. Harus mampu menjawab tantangan kemajuan zaman. 

Bagi Kresnayana, banyak lapangan kerja yang bisa dimanfaatkan dari kemajuan zaman yang artinya juga kemajuan teknologi. Orang dapat belajar apapun dari internet. Masih banyak pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia, baik di negara paling maju sekalipun. Seperti service mesin dan pelayanan di bandara serta pelabuhan. "Peluang wirausaha dari internet cukup besar," ingatnya.

Hingga sekarang, dalam catatan Kresnayana, angka pengangguran di Surabaya hanya 4 persen dari penduduknya. Ini artinya sudah banyak yang berpikir untuk menyiapkan ketrampilannya. "Jangan mikir kerja di pabrik terus," tandasnya. 

Kepala Disnakertrans Jatim, Setiajit mengatakan, hingga sekarang perihal PHK perkebangannya cukup bagus. Artinya ada penurunan jumlah karyawan yang di-PHK. "Kalau ada perusahaan yang melakukan PHK, selalu laporan ke Disnaker. Alhamdulillah bagus. Tidak ada peningkatan drastis," kata Setiajit. 

Statistiknya diakui Setiajit masih terjaga dengan baik. Bahkan, dari hasil wajib lapor ketenagakerjaan terungkap jika lowongan pekerjaan masih cukup tinggi dibandingkan angka PHK di Jatim. Pada tahun ini terdapat sekitar 370 lowongan pekerjaan lebih untuk sekitaran Jatim. Ditambah dengan lowongan pekerjaan di luar provinsi serta luar negeri, setidaknya masih ada sekitar empat ribu lebih lowongan. "Itu artinya masih bagus," ungkapnya. 

Masih ada selisih yang cukup bagus antara penganguran dengan penyerapan tenaga kerja. Dalam catatan Setiajit, pada 2016 jumlah PHK sekitar tiga ribu lebih. Namun, jumlah itu menurun pada 2017, yaitu mencapai 1900 orang di seluruh Jatim. "Menurut saya, bagaimana kami mengaturnya. Memberikan pendampingan. Dengan diberikan pendampingan, banyak yang tidak jadi PHK. Contoh Unilever yang berencana mem-PHK sejumlah 28 orang pegawai.Setelah diberi pendamping, tidak jadi PHK," bebernya. 

Memang, disebutkan Setiajit, banyak perusahaan yang beralasan efisiensi ketika akan melakukan pemutusan kerja. Disinilah peran penting Pemprov Jatim dalam memberikan pendampingan. Jangan sampai tingkat pengangguran di Jatim terus bertambah. Selama ini, menurutnya, perusahaan masih menghormati agar tidak menambah jumlah pencari kerja yang saat ini masih tinggi.

(sb/han/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia