Radar Surabaya - Tidak lama lagi, bulan Suci Ramadan akan segera tiba. Tentu saja banyak masyarakat yang sudah merindukan ibadah di bulan suci ramadan khususnya salat Tarawih.
Namun ada banyak cerita menarik di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satunya seperti yang dialami Kiai Abdur Rozaq Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Pak Ar (sapaan akrabnya) tercatat dua kali memimpin salat tarawih jamaah Nahdlatul Ulama.
Kisah pertama terjadi di Ponorogo. Malam itu, Pak Ar berniat salat tarawih. Entah karena suasana gelap atau papan nama kurang ramah, beliau justru masuk ke masjid NU yang jamaahnya sudah siap-siap takbiran tarawih.
Alih-alih ditegur atau disuruh pindah, pengurus masjid menyambut hangat. Jamaah Muhammadiyah yang menyusul pun diminta bergabung. Suasana cair, ukhuwah langsung mode aktif. Namun belum sempat duduk manis, Pak AR malah diminta maju jadi imam.
“Ini tarawehnya berapa rakaat, ya?,” ujar Abdur Rozaq Fachruddin dengan nada santai.
Jamaah NU kompak menjawab, 23 rakaat.
Salat pun dimulai. Bacaan Pak AR terkenal tertib, tenang, dan pastinya panjang. Delapan rakaat pertama berjalan lebih lama dari biasanya. Beberapa jamaah mulai saling lirik, ada yang senyum-senyum, ada yang sudah ancang-ancang strategi.
Usai delapan rakaat, dirinya menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan polos tapi menggelitik.
“Diterusaken taraweh nopo langsung witir?,” celetuknya.
Tanpa dikomando, jamaah menjawab serempak, “Witir wae!”
Masjid langsung pecah tawa. Tarawih pun ditutup dengan damai dan bahagia.
Belum cukup sampai di situ. Episode kedua terjadi di Tebuireng, saat Pak AR berkunjung ke KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Lagi-lagi, beliau diminta jamaah NU untuk mengimami tarawih. Belajar dari pengalaman, Pak AR kali ini langsung klarifikasi di awal.
“Ini mau tarawih NU atau Muhammadiyah?,” tanya dia kepada para jamaah.
Jamaah menjawab mantap, “NU!”
Salat dimulai. Bacaan tetap panjang, tetap khusyuk. Setelah delapan rakaat, jamaah kembali rapat kilat dan meminta opsi kedua, tarawih Muhammadiyah plus witir. Pak AR mengangguk santai, menutup salat dengan witir tiga rakaat. Semua selesai tanpa debat, tanpa cemberut, hanya tawa dan rasa saling menghormati.
Usai salat, Gus Dur memberi komentar khasnya. Singkat, nyentil dan bikin ngakak. Ia menyebut jamaah NU di kandangnya sendiri malam itu di-Muhammadiyah-kan secara massal.
Kisah dua kali tarawih ini jadi bukti bahwa perbedaan amaliah bukan tembok pemisah. Selama niatnya ibadah dan hatinya lapang, salat bisa jadi ruang persaudaraan lengkap dengan senyum dan humor. (naa/fir)
Editor : M Firman Syah