RADAR SURABAYA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menyiapkan Bandara Dhoho Kediri sebagai alternatif keberangkatan jemaah haji mulai tahun 2027.
Kebijakan ini ditempuh untuk mengurangi beban Bandara Internasional Juanda Surabaya yang saat ini telah beroperasi melampaui kapasitas optimal, khususnya saat musim haji.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochammad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa Bandara Dhoho telah ditinjau dan dinilai layak untuk mendukung operasional penerbangan haji.
“Insyaallah 2027 kita pakai,” kata Irfan Yusuf, Senin (15/12). Kemenhaj juga akan menyiapkan lokasi embarkasi haji yang berdekatan dengan bandara tersebut.
Selain bandara, Kemenhaj juga mempertimbangkan penggunaan hotel sebagai asrama haji bagi jemaah yang akan diberangkatkan melalui Bandara Dhoho Kediri.
Gus Irfan menjelaskan, skema ini telah lebih dulu diterapkan di Yogyakarta dan dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di daerah lain.
“Untuk asrama haji bisa di Kediri, bisa di Surabaya, atau menggunakan hotel. Tahun depan kami menggunakan hotel sebagai asrama haji di Yogyakarta. Jika hasilnya baik, tidak ada salahnya diterapkan di daerah lain,” ujarnya.
Di Yogyakarta, dua hotel yang berlokasi dekat dengan Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo, yakni Novotel dan Ibis, akan
digunakan sebagai tempat persiapan jemaah sebelum keberangkatan. Kedua hotel tersebut terhubung langsung sehingga memudahkan mobilisasi jemaah.
Menurut Gus Irfan, pemanfaatan hotel sebagai asrama haji dapat menjadi solusi efisien dalam pengelolaan anggaran.
“Jika skema ini berjalan dengan baik, tidak perlu membangun asrama haji baru. Anggaran pemerintah bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain, karena pembangunan dan perawatan asrama memerlukan biaya yang besar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penggunaan Bandara Dhoho Kediri bertujuan untuk mendistribusikan arus keberangkatan haji di Jawa Timur secara lebih merata.
“Bandara Juanda Surabaya sudah sangat padat. Karena itu, diperlukan alternatif agar pelayanan jemaah haji tetap optimal,” pungkasnya.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan