RADAR SURABAYA – Guru Besar Hukum Tata Negara Prof Mahfud MD mengungkapkan pentingnya menjaga integritas sebagai fondasi moral dan karakter bangsa. Ia juga mendorong penguatan ekosistem pesantren sebagai sumber daya moral khas Jawa Timur.
Mahfud juga mengajak untuk melakukan revitalisasi nilai-nilai kepesantrenan, seperti kesederhanaan dan anti-tamak, yang diyakini membentuk karakter warga dan pejabat publik yang berintegritas.
“Kalau bisa hidup sederhana saja, secukupnya, dan ingat harus hidup jujur. Kata orang Madura, mun tak jujur ancor (kalau kamu tidak jujur, hancur),” ujar Mahfud saat orasi ilmiah pada rapat paripurna istimewa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Provinsi Jawa Timur di Gedung DPRD Jatim, Minggu (12/10).
Mahfud menegaskan bahwa kejujuran merupakan kunci keteguhan moral dalam kehidupan pribadi maupun jabatan publik. “Kalau tidak jujur, tinggal menunggu waktu. Sekarang selamat, besok tidak. Lihat saja, banyak yang gagal karena tidak jujur. Patronnya hilang, kocar-kacir, pada ketakutan. Nah, itulah yang diajarkan pesantren,” tegasnya.
Mahfud menekankan bahwa integritas berarti keselarasan antara ucapan dan tindakan. “Antara yang diumumkan dan yang dikerjakan itu sama, itulah integritas. Dari sana muncul tiga ide utama demokrasi yakni liberty (kebebasan), equality (kesetaraan), dan fraternity (persaudaraan),” jelasnya.
Selain itu, Mahfud juga menyoroti kondisi etika publik di era digital. Ia mengkritik maraknya budaya saling caci dan adu domba di media sosial yang dinilainya telah merusak keadaban. “Sudah nir-akhlak,” tegasnya.
Dalam orasinya, Mahfud juga mengingatkan agar masyarakat melihat kemajuan sosial-ekonomi nasional sebagai hasil kerja lintas pemerintahan, mulai dari era Presiden Soekarno hingga Joko Widodo. “Ini harus disyukuri. Jangan marah-marah melulu,” katanya.
Ia menilai Jawa Timur sebagai miniatur kebinekaan Indonesia, dengan beragam suku, agama, dan ras yang hidup berdampingan. “Oleh sebab itu, mari kita jaga keindonesiaan kita ini,” katanya.
Mahfud menekankan pentingnya semangat gotong royong sebagai praktik nilai kebangsaan yang perlu terus dihidupkan. Menurutnya, Jawa Timur harus terus menjadi motor persatuan, pagar kebangsaan, dan fondasi kebinekaan.
Dalam kesempatan itu, Mahfud juga menyinggung peran sejarah Jawa Timur dalam fase krusial perjuangan kemerdekaan. Ia mengingatkan bahwa di tengah tekanan internasional pasca-Perang Dunia II, bangsa Indonesia menyatakan tekad untuk mempertahankan kedaulatan tanpa kompromi.
“Indonesia ini merebut dan akan melawan siapa pun yang masuk kembali ke Indonesia,” tegasnya.
Mahfud menutup orasinya dengan menyinggung peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya. Menurutnya, perlawanan rakyat Jawa Timur menjadi momentum penting yang membuka jalan bagi pengakuan kedaulatan Indonesia. (*)