Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Keracunan Massal Program MBG dan Demo Ricuh di Indonesia Jadi Perhatian Media Internasional

Muhammad Firman Syah • Jumat, 5 September 2025 | 00:05 WIB
Keracunan makanan MBG menjadi sorotan tajam media internasional.
Keracunan makanan MBG menjadi sorotan tajam media internasional.

Radar Surabaya – Dua peristiwa besar yang terjadi di Indonesia dalam waktu berdekatan, keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan demonstrasi nasional yang menelan korban jiwa menjadi sorotan sejumlah media internasional. Perhatian global ini turut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas sosial dan efektivitas kebijakan pemerintah Indonesia.

Media asal Qatar, Al Jazeera, melaporkan bahwa lebih dari 400 siswa di Bengkulu mengalami sakit setelah menyantap makanan dari program MBG pada Rabu (3/9). Insiden tersebut terjadi saat Presiden Prabowo Subianto tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Selain itu, Al Jazeera juga mengulas gelombang demonstrasi di berbagai daerah yang menyebabkan 10 orang meninggal dunia dan 20 orang dinyatakan hilang.

Dalam laporannya, Al Jazeera menyebut bahwa PBB telah menyerukan penyelidikan menyeluruh atas dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan selama demonstrasi.

"Kami memantau dengan saksama serangkaian kekerasan di Indonesia dalam konteks protes nasional atas tunjangan parlemen, langkah-langkah penghematan, dan dugaan penggunaan kekuatan yang tidak perlu atau tidak proporsional oleh pasukan keamanan," kata juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Media lain seperti South China Morning Post (SCMP) turut menyoroti insiden keracunan makanan di Bengkulu. SCMP melaporkan bahwa siswa yang terdampak berusia antara 4 hingga 12 tahun dan mengalami gejala sakit perut. Menindaklanjuti kejadian tersebut, dapur produksi MBG di wilayah itu ditutup sementara untuk proses penyelidikan. Meski dimintai keterangan, Badan Gizi Nasional belum mengeluarkan pernyataan resmi.

Sementara itu, kantor berita Reuters mengangkat sorotan tajam terhadap kelemahan sistem dalam pelaksanaan program MBG. Disebutkan bahwa dapur MBG di Bengkulu baru mulai beroperasi ketika insiden terjadi. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan pihaknya telah meminta staf untuk melakukan evaluasi layanan sambil menunggu hasil laboratorium terkait penyebab keracunan.

Media Inggris The Independent bahkan menyebut kejadian di Bengkulu sebagai “kasus keracunan makanan massal terburuk” sejak program MBG diluncurkan.

"Ini adalah kasus keracunan makanan massal terburuk yang terkait dengan program unggulan Presiden Prabowo Subianto," tulis The Independent.

The Independent juga menampilkan kisah seorang siswa bernama Wizdan Ridho Abimanyu dari Jawa Tengah, yang mengaku mengalami sakit perut hebat hingga terbangun di malam hari setelah mengonsumsi makanan MBG di sekolah. Gejala yang dialami juga mencakup sakit kepala dan diare, yang turut dirasakan oleh sejumlah teman sekelasnya.

Diluncurkan sejak Januari 2025, program MBG telah menjangkau puluhan juta pelajar dan ditargetkan mencakup 83 juta penerima pada akhir tahun dengan alokasi anggaran sebesar Rp171 triliun. Namun, serangkaian insiden keracunan dan lemahnya pengawasan di tingkat pelaksana membuat program unggulan ini menuai kritik tajam, baik dari dalam negeri maupun dunia internasional. (ray/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#keracunan massal #media internasional #indonesia #demonstrasi #menjadi sorotan #peristiwa besar