RADAR SURABAYA-Media sosial dihebohkan dengan video penganiayaan seorang dokter koas di Palembang. Diduga peristiwa tersebut dipicu karena jadwal jaga akhir tahun.
Dalam sebuah video yang diunggah di akun X @Heraloebss pada Kamis (12/12) memperlihatkan pria berkaos merah terus memukuli dokter koas yang masih menggunakan baju dinas.
Tampak rekan perempuan dokter koas yang juga masih menggunakan baju dinas berusaha melerai. Begitu juga seorang wanita yang terlihat lebih tua berusaha menarik pria berkaos merah yang memukuli sang dokter pria tersebut.
“Kami sudah (bicara) baik-baik,” terdengar dokter koas itu bicara dengan nada tinggi di video.
Namun, pria berkaos merah terus memukuli dokter koas secara bertubi-tubi. Meskipun telah dilerai oleh beberapa orang di sana, pria berkaos merah terlihat begitu emosi dan terus berusaha menyerang dokter koas yang dibantu rekan perempuannya.
Diketahui dokter koas yang menjadi korban penganiayaan itu bernama Luthfi. Dia merupakan chief koas mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) di RS Siti Fatimah Palembang. Sebagai chief koas, korban bertugas membagi jadwal jaga untuk rekan-rekannya.
Namun, ternyata salah satu rekannya bernama Lady tidak setuju dengan jadwal jaga yang dianggap tidak adil karena diduga bertepatan dengan libur panjang natal dan tahun baru. Padahal, Luthfi telah mengganti jadwal jaga hingga tiga kali dan semua rekannya setuju.
Lady pun mengadu ke ibunya sehingga sang ibu menghubungi Luthfi untuk bertemu di Brasserie Demang setelah korban pulang dari RS.
Korban datang bersama dua rekan wanitanya dan ibu Lady datang bersama sopir pribadinya.
Ketiga dokter koas mendengarkan keluhan yang disampaikan oleh ibu Lady. Namun, mereka dianggap tidak memberikan respons baik sehingga pria berkaos merah yang merupakan sopir pribadi tersulut emosi seperti dalam video yang beredar.
Video tersebut menjadi viral di media sosial hingga mendapat lebih dari 7,7 juta penayangan.
Akibatnya, identitas keluarga Lady terungkap bahwa ayahnya merupakan pejabat di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai Kepala BPJN Kalimantan Barat (Kalbar), Dedy Mandarsyah (DM).
Sedangkan ibunya bernama Sri Meilina (SM) merupakan pemilik galeri batik tenun terkenal di Palembang.
Akun media sosial PUPR Kalbar yang sempat mengunggah foto DM pun mendapat serangan komentar dari netizen terkait peristiwa ini.
Bahkan, admin akun tersebut sampai menghapus postingan tentang DM yang banjir komentar dari netizen. Sekaligus juga menghapus dan membatasi komentar.
Lady yang mengadu ke keluarga terkait jadwal jaga dokter koas akhir tahun juga telah mengunci akun media sosial miliknya. Meskipun begitu, banyak netizen yang telah menyebarkan foto Lady beserta keluarganya.
Sementara itu, korban yang mendapat penganiayaan mengalami luka di gigi dan muka tengah menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Sumatera Selatan. Korban juga telah melaporkan kejadian ini ke Polda Sumatera Selatan.
Peristiwa ini pun mendapat banyak kecaman dari netizen yang menilai bahwa Lady harus mendapat hukuman atas tindakannya yang seolah lepas dari tanggung jawab sebagai dokter koas.
Sebab tidak hanya melakukan protes terkait jadwal jaga, Lady juga disebut sering tidak melakukan tugasnya sebagai dokter koas. “Dear Lady, ga semuanya bisa lo selesain dengan kekerasan ya. Belajarlah dari sekarang untuk bertanggung jawab sama apa yang lo putuskan,” tulis akun @pal***
“Lady semoga lu dikeluarin ya dari FK. Semoga keluarga lu kebongkar semua aibnya. Semoga driver orang suruhan emak lu masuk penjara ya. Aamiin,” tulis akun @czi***
“Lagian princess ngapain main dokter-dokteran. Mending nikah aja sama konglo dapet duit gak pake capek kerja jaga malam,” tulis akun @Bhu***
“Udh mending tutup aja jalur2 masuk kedokteran via jalur bayar, kualitas dokter menuju Indonesia Cemas 2045 makin suram klo yg lulus ntar dokter2 sampah gini,” tulis akun @sar***
Baca Juga: Beli Sabu di Madura untuk Dijual Kembali, Ditangkap di Kebalen Surabaya
“Apakah @unsri akan meluluskan calon dokter seperti ini? Dokter itu bukan sekedar hafal nama2 obat kan, sikap perilaku juga dibutuhkan pasien,” tulis akun @MrE***
Dekan Fakultas Kedokteran Unsri, Syarif Hasan, membenarkan bahwa peristiwa penganiayaan ini dialami oleh mahasiswanya yang sedang menjalani koas di RS Siti Fatimah. Setelah mendapatkan laporan, dia dan pihak kampus langsung melakukan rapat koordinasi.
"Kami prihatin dengan insiden yang menimpa salah satu peserta didik kami yang sedang melakukan pembelajaran profesi di RS Siti Fatimah. Setelah mendapatkan laporan tersebut, kami langsung melakukan rapat koordinasi dengan pihak kampus," terangnya, Kamis (12/12).
Namun sampai saat ini belum diketahui hasil rapat koordinasi di kampus Universitas Sriwijaya Palembang. Termasuk apakah ada sanksi untuk dokter koas Lady dan pembelaan terhadap dokter koas Luthfi yang menjadi korban pemukulan. (sas/jay)
Editor : Jay Wijayanto