26 C
Surabaya
Tuesday, January 31, 2023

Jangan Terkecoh Figur Mataraman atau Tapal Kuda

Surabaya – Pengamat politik dari FISIP Universitas Airlangga Suko Widodo mengingatkan bahwa semakin canggihnya media informasi, dinilai efektif menembus batas ruang dan kultur. Sehingga, yang ada adalah figur yang bisa mewakili Jawa Timur, dan bukan figur Mataraman, Arek, atau figur Tapal Kuda. 

Sekarang tidak ada lagi yang namanya batas kultural maupun batas wilayah, sehingga yang paling dominan adalah peran media komunikasi informasi. “Sekarang tidak ada lagi yang namanya wilayah mataraman kulturnya seperti ini, terus wilayah tapal kuda gini, soal pilgub semuanya ada di media komunikasi informasi, selesai,” katanya.

Menurutnya, dirinya kerap berdebat dengan komunitasnya terkait adanya survei Pilkada Jatim yang masih memecah wilayah Jatim menjadi basis mataraman yang merah dan basis pantura yang hijau. “Memecah wilayah Jatim dalam riset itu tidak ada pasalnya, itu namanya falasi riset atau riset yang sesat,” ujarnya.

Baca Juga :  Gus Ipul Mulai Hitung Biaya Pemenangan

Era dulu berbeda dengan era sekarang, lanjutnya. Kalau dulu masih ada kotak-kotak wilayah dan kultur, namun sekarang di era millenial sudah tidak ada. “Yang penting sekarang adalah bagaimana calon mampu memanfaatkan media sosial era millenial,” tandasnya. 

Surabaya – Pengamat politik dari FISIP Universitas Airlangga Suko Widodo mengingatkan bahwa semakin canggihnya media informasi, dinilai efektif menembus batas ruang dan kultur. Sehingga, yang ada adalah figur yang bisa mewakili Jawa Timur, dan bukan figur Mataraman, Arek, atau figur Tapal Kuda. 

Sekarang tidak ada lagi yang namanya batas kultural maupun batas wilayah, sehingga yang paling dominan adalah peran media komunikasi informasi. “Sekarang tidak ada lagi yang namanya wilayah mataraman kulturnya seperti ini, terus wilayah tapal kuda gini, soal pilgub semuanya ada di media komunikasi informasi, selesai,” katanya.

Menurutnya, dirinya kerap berdebat dengan komunitasnya terkait adanya survei Pilkada Jatim yang masih memecah wilayah Jatim menjadi basis mataraman yang merah dan basis pantura yang hijau. “Memecah wilayah Jatim dalam riset itu tidak ada pasalnya, itu namanya falasi riset atau riset yang sesat,” ujarnya.

Baca Juga :  Jambret Tas Emak-Emak, Korban Jatuh, Jambret Kabur

Era dulu berbeda dengan era sekarang, lanjutnya. Kalau dulu masih ada kotak-kotak wilayah dan kultur, namun sekarang di era millenial sudah tidak ada. “Yang penting sekarang adalah bagaimana calon mampu memanfaatkan media sosial era millenial,” tandasnya. 

Most Read

Berita Terbaru