RADAR SURABAYA - Keputusan Presiden Donald Trump meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran pada Sabtu 28 Februari 2026 disebut merupakan hasil tekanan selama berminggu-minggu dari Israel dan Arab Saudi. Laporan The Washington Post mengutip sejumlah pejabat dan sumber yang mengetahui proses di balik layar tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mendorong dilakukannya serangan terhadap Iran. Sementara itu, peran Arab Saudi dinilai lebih kompleks dan banyak dilakukan melalui jalur diplomasi tertutup.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan melakukan beberapa panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir untuk mendesak serangan, meski di depan publik menyatakan dukungan terhadap solusi diplomatik. Pada saat yang sama, Riyadh juga menegaskan tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan serangan.
Menurut laporan tersebut, MBS memperingatkan pejabat Amerika Serikat bahwa jika serangan tidak segera dilakukan, Iran akan menjadi semakin kuat dan berbahaya.
Trump menyebut ada dua alasan utama di balik peluncuran Operasi Epic Fury. Kepada Axios, ia mengatakan alasan pertama adalah runtuhnya perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa.
Alasan kedua, pemerintah Iran disebut mulai membangun kembali fasilitas nuklir yang sebelumnya rusak akibat perang Iran–Israel pada Juni 2025 lalu.
“Iran sempat mendekat lalu mundur lagi. Dari situ saya memahami mereka sebenarnya tidak ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump.
Saat menyiapkan pidato pengumuman operasi, Trump juga meminta timnya menyusun daftar seluruh serangan yang terkait Iran di berbagai belahan dunia dalam 25 tahun terakhir. Ia mengklaim hampir setiap bulan terjadi aksi kekerasan yang melibatkan pihak terkait Iran. (*)
Editor : Lambertus Hurek