RADAR SURABAYA - Ribuan pendukung setia menghadiri pemakaman Saif Al Islam, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, yang tewas ditembak oleh geng bersenjata tak dikenal di rumahnya di Zintan pada Selasa (3/2).
Pemakaman berlangsung pada Jumat (6/2), di kota Bani Walid, sekitar 175 kilometer selatan Tripoli, menjadi simbol duka sekaligus penegasan bahwa keluarga Khadafi masih memiliki basis loyalitas besar di Libya.
Kantor Saif Al Islam menyatakan ia tewas dalam “konfrontasi langsung” dengan empat penyerang yang menerobos masuk ke rumahnya.
Jaksa agung Libya memastikan hasil pemeriksaan forensik menunjukkan korban meninggal akibat luka tembak. Hingga kini, identitas pelaku masih dalam penyelidikan.
Salah satu pelayat, Waad Ibrahim, 33, warga Sirte, mengungkapkan kesedihannya. “Kami di sini untuk mendampingi orang yang kami cintai, putra pemimpin kami yang kami harapkan dan masa depan kami,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.
Sosok Saif Al Islam
Saif Al Islam pernah dijuluki sebagai perdana menteri de facto selama pemerintahan ayahnya, meski tidak memegang jabatan resmi.
Ia dikenal sebagai sosok moderat yang memimpin negosiasi penghentian program senjata pemusnah massal Libya dan kompensasi bagi keluarga korban tragedi Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia.
Namun reputasinya runtuh ketika ia mengancam akan “mengalirkan darah” untuk menghadapi pemberontakan 2011.
Mahkamah Kriminal Internasional kemudian mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pada 2021, ia sempat mengumumkan pencalonan diri sebagai presiden, tetapi pemilu ditunda tanpa batas waktu.
Pembunuhan Saif Al Islam terjadi di tengah kondisi Libya yang masih terpecah antara pemerintahan yang didukung PBB di Tripoli di bawah Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah dan administrasi timur yang didukung Khalifa Haftar.
Saif Al Islam dianggap oleh sebagian pihak sebagai alternatif terhadap duopoli kekuasaan tersebut.
Kematian Saif Al Islam, yang terjadi hanya beberapa hari setelah pertemuan politik di Istana Elysee Prancis antara putra Haftar dan penasihat Dbeibah, menambah ketegangan politik di Libya. (alj/nur)