RADAR SURABAYA - Serangan teror mematikan di Pantai Bondi, Sydney, Australia, yang menewaskan sedikitnya 15 orang saat perayaan Hanukkah, kini menjadi fokus penyelidikan lintas negara.
Aparat Australia melibatkan otoritas India setelah teridentifikasi salah satu pelaku, Sajid Akram, berasal dari Hyderabad sebelum menetap di Sydney.
Polisi Telangana, India selatan, menyatakan keluarga Sajid tidak mengetahui adanya indikasi ekstremisme sebelum ia meninggalkan India pada 1998.
“Anggota keluarga menyatakan tidak mengetahui pola pikir atau aktivitas radikalnya,” kata kepolisian Telangana, dikutip The Guardian, Rabu (17/12).
Polisi India menegaskan Sajid tidak memiliki catatan kriminal maupun riwayat radikalisasi saat tinggal di India.
Ia diketahui pindah ke Australia untuk bekerja, menikah dengan perempuan asal Eropa, dan memiliki dua anak.
Sementara itu, putra Sajid, Naveed Akram, 24, yang juga diduga terlibat dalam serangan, dilaporkan telah sadar dari koma.
Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, menyebut Naveed kini dirawat di rumah sakit dan menjalani prosedur penahanan.
“Kami menunggu efek obat biusnya hilang agar dia sepenuhnya memahami situasi sebelum diinterogasi,” ujar Lanyon kepada ABC Radio.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan penembakan massal tersebut sebagai aksi terorisme yang menargetkan komunitas Yahudi.
Serangan ini menjadi penembakan massal terburuk di Australia dalam hampir 30 tahun.
Hingga Rabu (17/12), sebanyak 22 korban luka masih dirawat, dengan tiga di antaranya dalam kondisi kritis.
Polisi Australia juga mengungkap Sajid dan Naveed sempat melakukan perjalanan ke Filipina bulan lalu. Tujuan perjalanan tersebut masih diselidiki apakah terkait jaringan terorisme tertentu.
Serangan teror di Pantai Bondi meninggalkan duka mendalam bagi Australia, dengan korban jiwa mencapai 15 orang dan puluhan luka-luka.
Penyelidikan lintas negara yang melibatkan India diharapkan dapat mengungkap jejak radikalisasi Sajid Akram dan jaringan yang mungkin terkait.
Dalam acara peringatan di Bondi, keluarga korban termuda berusia 10 tahun menyampaikan kesedihan mendalam.
“Ini adalah rumah kami. Saya tak pernah membayangkan kehilangan putri saya di sini,” ujar ibu korban, dilaporkan BBC. (gua/nur)
Editor : Nurista Purnamasari