RADAR SURABAYA - Universitas Brown di Rhode Island, Amerika Serikat, diguncang penembakan massal pada Sabtu (13/12) sore. Insiden terjadi di gedung Barus and Holley Engineering sekitar pukul 16.22 waktu setempat.
Aparat keamanan segera mengeluarkan peringatan “run, hide, fight” kepada mahasiswa dan staf kampus.
Menurut laporan resmi, sedikitnya dua orang tewas dan delapan hingga sembilan lainnya luka-luka, dimana sebagian lainnya kritis dan dilarikan ke rumah sakit.
Kampus sempat lockdown selama dua jam, sementara polisi dan tim SWAT melakukan pencarian intensif terhadap pelaku.
Kronologi Kejadian
Sekitar pukul 16.22, pihak keamanan kampus mengirimkan peringatan adanya active shooter.
Pelaku, seorang pria berpakaian serba hitam, masuk ke gedung teknik dan melepaskan tembakan.
Mahasiswa dan staf bersembunyi di ruang kelas dan laboratorium, sementara polisi mengepung area kampus.
Gubernur Rhode Island, Daniel McKee, menyatakan telah berkoordinasi dengan Presiden AS untuk penanganan darurat.
Hingga Sabtu malam, pelaku masih buron. Polisi menyebut identitasnya belum dipublikasikan, namun ciri-cirinya adalah pria berpakaian hitam. Investigasi terus dilakukan dengan pengamanan ketat di sekitar kampus.
Kasus di Universitas Brown menambah panjang daftar penembakan massal di Amerika Serikat.
Menurut data Gun Violence Archive, sepanjang 2024 tercatat lebih dari 650 insiden penembakan massal di AS.
Tahun 2025 diperkirakan jumlahnya tetap tinggi, dengan rata-rata lebih dari satu insiden per hari. Kampus dan ruang publik menjadi lokasi yang paling rentan.
Penembakan massal di Universitas Brown, Rhode Island, menewaskan dua orang dan melukai sembilan lainnya.
Pelaku masih buron, sementara aparat meningkatkan pengamanan di sekitar kampus. Kasus ini menegaskan bahwa penembakan massal masih menjadi krisis serius di Amerika Serikat, dengan ratusan insiden terjadi setiap tahun.
“The unthinkable has happened (Hal yang tidak terpikirkan telah terjadi),” ujar Wali Kota Providence Brett Smiley, menekankan bahwa tragedi ini menjadi peringatan keras akan perlunya langkah nyata untuk mencegah kekerasan senjata. (bbc/nur)
Editor : Nurista Purnamasari