RADAR SURABAYA - Shayne Coplan, pendiri platform prediksi pasar berbasis kripto Polymarket, kini menjadi sorotan dunia setelah dinobatkan sebagai miliarder termuda.
Di usia 27 tahun, Coplan berhasil membawa perusahaannya meraih investasi senilai USD 2 miliar dari Intercontinental Exchange (ICE), induk dari Bursa Efek New York.
Valuasi Polymarket pun melonjak menjadi USD 9 miliar, menjadikan Coplan pemilik saham senilai lebih dari USD 1 miliar.
Perjalanan Bisnis
Polymarket didirikan oleh Coplan pada tahun 2020 saat ia masih berstatus mahasiswa. Berbeda dari kisah klasik startup yang lahir di garasi, Coplan memulai bisnisnya dari kamar mandi apartemen di Lower East Side, New York City, yang ia sebut sebagai “kantor darurat”.
Meski sempat menghadapi kritik terkait transparansi dan regulasi pada 2022, Coplan memilih untuk memperbaiki sistem dan mematuhi aturan keuangan yang berlaku, membawa Polymarket ke arah yang lebih profesional dan aman bagi pengguna.
Platform ini memungkinkan pengguna memprediksi berbagai tren global, mulai dari isu ekonomi hingga hasil pemilu.
Coplan lahir dan besar di New York City. Ia sempat menempuh studi ilmu komputer di Universitas New York, namun memutuskan keluar karena keterbatasan finansial.
Pada masa awal pandemi, ia hidup dalam kondisi sulit dan bahkan harus menjual barang-barang pribadi untuk membayar sewa apartemen.
Namun, ia tetap yakin bahwa masa depan akan ditentukan oleh cara baru dalam menemukan kebenaran, keyakinan yang menjadi fondasi Polymarket
Kisah Shayne Coplan menjadi bukti bahwa kegigihan dan inovasi bisa mengubah keterbatasan menjadi pencapaian luar biasa.
Dari kamar mandi sempit hingga valuasi miliaran dolar, Coplan kini menyusul nama-nama besar seperti Alexandr Wang dari Scale AI sebagai miliarder muda yang sukses membangun bisnis teknologi dari nol.
Dengan Polymarket, Coplan tak hanya menciptakan platform prediksi berbasis kripto, tetapi juga membuka jalan baru bagi generasi muda untuk berinovasi di tengah tantangan ekonomi digital.
Perjalanan bisnisnya menjadi inspirasi bahwa masa depan bisa dimulai dari tempat yang paling sederhana, asal ada visi dan keberanian untuk bertahan. (edu/nur)
Editor : Nurista Purnamasari