Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Indonesia Diperbincangakan Media Dunia, Bendera One Piece Disebut Ancaman Nasional

Muhammad Firman Syah • Minggu, 3 Agustus 2025 | 20:50 WIB
Bendera Topi Jerami kini dipandang sebagai simbol ancaman nasional karena dikibarkan dalam konteks perlawanan sipil terhadap pemerintah.
Bendera Topi Jerami kini dipandang sebagai simbol ancaman nasional karena dikibarkan dalam konteks perlawanan sipil terhadap pemerintah.

Radar Surabaya - Fenomena pengibaran bendera bajak laut ala One Piece tak hanya mengguncang ruang publik dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian media asing. Dalam laporan media Spanyol Meristation, disebutkan bahwa "la bandera del Sombrero de Paja se ha calificado como una amenaza nacional" bendera Topi Jerami kini dipandang sebagai simbol ancaman nasional karena dikibarkan dalam konteks perlawanan sipil terhadap pemerintah.

"Indonesia, negara dengan semangat tinggi terhadap anime, kini menghadapi fenomena di mana simbol budaya pop bercampur dengan ekspresi protes politik," tulis Meristation.

Penggunaan simbol bajak laut dalam bentuk bendera Jolly Roger dari serial One Piece tak lagi dinilai sebagai bentuk kecintaan terhadap anime semata. Media alternatif Jepang, OtakuNews Asia, menyebutnya sebagai metafora baru dari masyarakat digital yang menuntut keadilan dan merindukan representasi.

"Simbol Luffy dan kawan-kawan bukan sekadar hiburan, tapi refleksi keresahan publik yang mencari ruang aman untuk bersuara," tulis OtakuNews Asia.

Fenomena serupa telah muncul di berbagai negara. Ketika saluran resmi dianggap tak efektif, masyarakat cenderung menggunakan simbol ambigu yang emosional namun sulit dikriminalisasi. Di Indonesia, pemakaian bendera One Piece menjadi bentuk "perlawanan senyap" yang viral, menggugah opini publik global.

Respons keras pemerintah Indonesia atas pengibaran simbol budaya pop ini pun tak luput dari sorotan dunia. Negara yang mengklaim menjunjung tinggi kebebasan berekspresi justru dinilai represif terhadap bentuk simbolik non-konvensional.

Kritik datang dari berbagai penjuru, mulai dari Jepang, Korea Selatan, hingga Jerman.

"Jika bajak laut fiksi dianggap ancaman negara, mungkin pemerintah harus bertanya, mengapa rakyat tidak lagi percaya pada simbol resmi mereka?" tulis seorang kolumnis dari The Diplomatic Eye, Australia.

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis representasi di tingkat politik. Ketika simbol negara tidak lagi mampu menyampaikan harapan rakyat, maka simbol alternatif akan diadopsi meski berasal dari dunia fiksi.

"Saat simbol resmi kehilangan makna, rakyat menciptakan simbol baru yang bisa menyuarakan kejujuran mereka," tambah The Diplomatic Eye.

Kini, bendera bajak laut bukan lagi sekadar properti fiksi. Ia telah berubah menjadi bahasa ekspresi politik baru, sunyi tapi tajam, simbolik tapi penuh makna. (mel/ris/fir)

Editor : M Firman Syah
#nasional #Global #indonesia #ancaman #opini #Media Dunia