alexametrics
30 C
Surabaya
Wednesday, August 10, 2022

Ditembak saat Berpidato, Mantan PM Jepang Shinzo Abe Meninggal

TOKYO – Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akhirnya meninggal dunia setelah ditembak saat berkampanye untuk pemilihan parlemen di Perfektur Nara, Jepang Barat, Jumat (8/7). Politisi berusia 67 tahun itu dibunuh oleh seorang mantan marinir dan pasukan beladiri Jepang.
Kantor berita Jepang NHK melaporkan, pemimpin terlama di Jepang itu ditembak dari belakang dengan senjata rakitan oleh Tetsuya Yamagami, 41, saat berpidato di depan stasiun kereta api Yamato-Saidaiji di Perfektur/Provinsi Nara.
Insiden penembakan terhadap Abe merupakan pembunuhan pertama terhadap seorang pejabat atau mantan perdana menteri Jepang sejak zaman militerisme sebelum perang di tahun 1930-an.
Tersangka penembak Abe yang langsung ditangkap usai kejadian belakangan diketahui sebagai mantan anggota marinir Angkatan Laut Jepang dan anggota Pasukan Bela Diri. Ia adalah Tetsuya Yamagami, yang diringkus di lokasi penembakan atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Yamagami adalah warga kota Nara. Ia menembak Abe karena motif kecewa atau balas dendam dengan Abe sejak masih menjabat sebagai PM. Niat Yamagami membunuh Abe sudah ada sejak lama.
Menurut polisi, Abe ditembak dari belakang ketika menyampaikan pidato di depan stasiun kereta api Yamato-Saidaiji, bagian dari perusahaan KA Kintetsu Railway. Abe terkena luka tembak di dada dan tenggorokan.
Abe jatuh ke tanah dalam keadaan tak sadarkan diri setelah dua tembakan terdengar. Sosok berusia 67 tahun itu langsung dilarikan ke rumah sakit dengan helikopter dalam keadaan berlumuran darah di kemejanya. Ia juga dilaporkan tidak menunjukkan tanda-tanda vital fungsi tubuh. Detak jantungnya pun berhenti.
Abe menjabat PM Jepang pada 2006 hingga 2007, dan kemudian menjabat lagi pada 2012 sampai 2020, setelah partai yang dipimpinnya, Partai Demokratik Liberal (LDP), memenangi pemilu. Ia kemudian mengundurkan diri karena menderita penyakit usus kronis.
PEMIMPIN DUNIA MENGUTUK
Berbicara sebelum pengumuman meninggalnya Shinzo Abe, Perdana Menteri Fumio Kishida sangat mengutuk penembakan itu. Sementara rakyat Jepang dan para pemimpin dunia terkejut atas insiden penembakan yang menewaskan Shinzo Abe di negara yang jarang terjadi kekerasan politik serta ketatnya kontrol senjata.
“Serangan ini adalah tindakan brutal yang terjadi selama pemilihan – dasar dari demokrasi kita – dan benar-benar tidak dapat dimaafkan,” kata Kishida, yang berjuang untuk menahan emosinya.
Menlu AS Anthony Blinken sebelum bertemu Menlu RI Retno Marsudi di Nusa Dua Bali juga mengutuk aksi kekerasan ini. “Kami tidak mengetahui kondisinya, kami tahu bahwa ia telah ditembak dan pikiran doa kami menyertainya dan keluarganya, serta bersama masyarakat Jepang. Ini adalah momen yang sangat, sangat sedih dan kami menantikan kabar dari Jepang.”
Menlu RI Retno Marsudi melalui Juru Bicara Kemlu RI Teuku Faizasyah mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Menlu menyampaikan simpatinya atas nama para Menlu G20 kepada Menlu Jepang.”
Sedangkan pemimpin Taiwan Tsai Ing-Wen dalam unggahan di Facebook mengatakan, “Saya yakin semua orang sama terkejut dan sedihnya seperti saya. Taiwan dan Jepang demokratis dengan supremasi hukum. Atas nama administrasi saya, saya mengutuk keras tindakan kekerasan dan ilegal.”
Mantan Menteri Olimpik Jepang, Yoshitaka Sakurada, saat tiba di Markas Partai LDP mengatakan, “Saya tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi di abad ke-21. Masih ada Rusia, yang juga di luar dugaan, tapi saya tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi di Jepang.” (jpc/ant/jay)
TOKYO – Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akhirnya meninggal dunia setelah ditembak saat berkampanye untuk pemilihan parlemen di Perfektur Nara, Jepang Barat, Jumat (8/7). Politisi berusia 67 tahun itu dibunuh oleh seorang mantan marinir dan pasukan beladiri Jepang.
Kantor berita Jepang NHK melaporkan, pemimpin terlama di Jepang itu ditembak dari belakang dengan senjata rakitan oleh Tetsuya Yamagami, 41, saat berpidato di depan stasiun kereta api Yamato-Saidaiji di Perfektur/Provinsi Nara.
Insiden penembakan terhadap Abe merupakan pembunuhan pertama terhadap seorang pejabat atau mantan perdana menteri Jepang sejak zaman militerisme sebelum perang di tahun 1930-an.
Tersangka penembak Abe yang langsung ditangkap usai kejadian belakangan diketahui sebagai mantan anggota marinir Angkatan Laut Jepang dan anggota Pasukan Bela Diri. Ia adalah Tetsuya Yamagami, yang diringkus di lokasi penembakan atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Yamagami adalah warga kota Nara. Ia menembak Abe karena motif kecewa atau balas dendam dengan Abe sejak masih menjabat sebagai PM. Niat Yamagami membunuh Abe sudah ada sejak lama.
Menurut polisi, Abe ditembak dari belakang ketika menyampaikan pidato di depan stasiun kereta api Yamato-Saidaiji, bagian dari perusahaan KA Kintetsu Railway. Abe terkena luka tembak di dada dan tenggorokan.
Abe jatuh ke tanah dalam keadaan tak sadarkan diri setelah dua tembakan terdengar. Sosok berusia 67 tahun itu langsung dilarikan ke rumah sakit dengan helikopter dalam keadaan berlumuran darah di kemejanya. Ia juga dilaporkan tidak menunjukkan tanda-tanda vital fungsi tubuh. Detak jantungnya pun berhenti.
Abe menjabat PM Jepang pada 2006 hingga 2007, dan kemudian menjabat lagi pada 2012 sampai 2020, setelah partai yang dipimpinnya, Partai Demokratik Liberal (LDP), memenangi pemilu. Ia kemudian mengundurkan diri karena menderita penyakit usus kronis.
PEMIMPIN DUNIA MENGUTUK
Berbicara sebelum pengumuman meninggalnya Shinzo Abe, Perdana Menteri Fumio Kishida sangat mengutuk penembakan itu. Sementara rakyat Jepang dan para pemimpin dunia terkejut atas insiden penembakan yang menewaskan Shinzo Abe di negara yang jarang terjadi kekerasan politik serta ketatnya kontrol senjata.
“Serangan ini adalah tindakan brutal yang terjadi selama pemilihan – dasar dari demokrasi kita – dan benar-benar tidak dapat dimaafkan,” kata Kishida, yang berjuang untuk menahan emosinya.
Menlu AS Anthony Blinken sebelum bertemu Menlu RI Retno Marsudi di Nusa Dua Bali juga mengutuk aksi kekerasan ini. “Kami tidak mengetahui kondisinya, kami tahu bahwa ia telah ditembak dan pikiran doa kami menyertainya dan keluarganya, serta bersama masyarakat Jepang. Ini adalah momen yang sangat, sangat sedih dan kami menantikan kabar dari Jepang.”
Menlu RI Retno Marsudi melalui Juru Bicara Kemlu RI Teuku Faizasyah mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Menlu menyampaikan simpatinya atas nama para Menlu G20 kepada Menlu Jepang.”
Sedangkan pemimpin Taiwan Tsai Ing-Wen dalam unggahan di Facebook mengatakan, “Saya yakin semua orang sama terkejut dan sedihnya seperti saya. Taiwan dan Jepang demokratis dengan supremasi hukum. Atas nama administrasi saya, saya mengutuk keras tindakan kekerasan dan ilegal.”
Mantan Menteri Olimpik Jepang, Yoshitaka Sakurada, saat tiba di Markas Partai LDP mengatakan, “Saya tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi di abad ke-21. Masih ada Rusia, yang juga di luar dugaan, tapi saya tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi di Jepang.” (jpc/ant/jay)

Most Read

Berita Terbaru


/