"Istilah brang berarti sebelah atau seberang, sekadar peristilahan yang secara kultural menunjukkan keberadaan alami di seberang barat dan seberang timur Surabaya dari pembatas alami Kalimas," ujar Ketua Komunitas Begandring Soerabaia, Nanang Purwono, Senin (15/5).
Nanang mengatakan, sungai ini sudah ada selama berabad-abad. Menurutnya, sungai ini dulu dikenal dengan nama Kali Surabaya. "Sungai yang menjadi titian peradaban yang menyertai jalannya perkembangan Kota Surabaya hingga sekarang," katanya.
Menurutnya, nama Kali Surabaya itu tertulis dalam literasi yang diproduksi era kolonialisasi. Peta kuno menuliskan frasa Kali Surabaya (untuk menamai alur sungai yang menjulur dari percabangan kali di Ngagel hingga bermuara ke Selat Madura.
Bahkan, nama Kali Surabaya ke arah selatan tidak hanya sebatas daerah Ngagel, tapi menjulur jauh hingga Kali Brantas di Kabupaten Mojokerto.
"Mengapa sungai sepanjang itu dinamakan Kali Surabaya Penamaan ini tidak lepas dari keberadaan naditira pradeca Surabaya. Yang tertulis Curabhaya pada Prasasti Canggu yang dibuat di masa Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pada 1358 M," terangnya.
Prasasti ini menuliskan nama-nama desa di tepian sungai (naditira), yang kala itu memberi layanan jasa tambangan (naditira pradeca). Karenanya, Prasasti Canggu juga dikenal dengan istilah Piagam Penyeberangan atau Ferry Charter.
Dari abad 14 hingga abad 21, Surabaya secara alami tetap sebagai tempat peradaban di tepian sungai, bahkan dibelah oleh sungai. Sungai yang awalnya bernama Kali Surabaya akhirnya berganti nama menjadi Kalimas.
"Sebenarnya nama Kalimas adalah untuk penamaan kanal baru mulai dari Kampung Baru (utara Jembatan Merah) hingga ke kawasan Ujung yang bermuara di Selat Madura, dibuat pada awal abad 19," pungkasnya. (mus/nur) Editor : Administrator