Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan menuturkan, cerita tutur yang berkembang di masyarakat Kampung Seng dulunya banyak bangunan semi permanen yang menggunakan seng sebagai atapnya.
Ini membuat orang menamakan kawasan tersebut sebagai Kampung Seng. Ini tak lepas dari penghuni di lokasi tersebut pada awalnya menyewa tanah di sana dari seorang saudagar Tionghoa. "Cerita tuturnya tanah itu disewakan saudagar tersebut ke perantau yang berada di Surabaya," katanya.
Perantau musiman ini, diperbolehkan pemilik lahan untuk membangun rumah dengan cara membayar patungan untuk menyewa lahan tersebut. Status sewa lahan ini, membuat perantau membangun bangunan semi permanen dari seng. Ini membuat banyak bangunan berdiri menggunakan seng.
"Atapnya ada yang menggunakan genteng atau seng ini. Dulu petak-petak namun mulai berkembang setelah penyewa mulai berkeluarga dan mengajak saudaranya ke Surabaya," tuturnya.
Seiring berjalannya waktu kamar petak-petak tadi mulai bermetamorfosa menjadi sebuah perkampungan heterogen. Dahulu Kampung Seng dihuni oleh beragam etnis, mulai dari Jawa, Madura hingga dari Sulawesi yg bekerja di kawasan perdagangan Kapasan.
"Dulu mereka berdagang di pasar, bahkan ada ekspedisi juga. Sampai sekarang tetap ada, bahkan ada industri rumahan seperti pabrik kecap," tuturnya. (gun/nur) Editor : Administrator