Ketua Komunitas Begandring Soerabaia Nanang Purwono mengatakan, pada tahun 1617, saat Mataram Islam diperintah Sultan Agung Hanyakrakusuma, terjadi pemberontakan besar penguasa Pajang yang hendak melepaskan wilayahnya dari cengkeraman Mataram.
Adipati Pajang mempunyai seorang bawahan bernama Ngabehi Tambakbaya, seorang yang sangat gagah dan sakti. “Serat Kandha mengisahkan bahwa Ngabehi Tambakbaya atau Aria Tambakbaya merupakan pemimpin pasukan Pajang," ujarnya, Minggu (9/4)
Nanang mengatakan, tentang tokoh Tambakbaya yang gagah berani tersebut, sebuah catatan dari Valentijn dalam buku Oud en Niew (jilid IV, halaman 40) menyebutkan twee myl bewesten deze stad (jagaraga) legt het stedeken Tambicbaya. Yang artinya Adipati Pajang mempunyai seorang bawahan bernama Ngabehi Tambakbaya, seorang yang sangat gagah dan sakti.
“Dua mil sebelah barat kota ini (jagaraga) terletak kota bernama Tambicbaya, yang pada peta Valetijn wilayahnya digambarkan sebesar Madiun, Jagaraga, Ponorogo,” terangnya.
Lebih lanjut Nanang mengatakan, peta tahun 1678 juga ditemukan peta Tambakbaya. “Namun kini tidak terlihat bekas kejayaan Tambakbaya, seakan kini menjadi daerah tak berarti,” ujarnya.
Larinya tokoh Tambakbaya ke Surabaya saat kekalahan Pajang tahun 1618 yang terekam dalam Babad Sangkala, diberi kedudukan yang penting, dan tempat tinggal tidak jauh dari Keraton Surabaya.
Hubungan Tambakbaya dengan keturunan penguasa Surabaya, diperkuat berita dalam Padmasoesastra (Sadjarah, generasi 217), bahwa Adipati Tambakbaya yang bergelar Adipati Sanjata menikah dengan putri Surabaya (putri Jayalangkara), yang bergelar Ayu Adipati Tambakbaya. Sehingga Tambakbaya menjadi ipar Pangeran Pekik.
“Diduga Kampung Tambak Bayan, dulunya merupakan rumah kediaman Adipati Tambakbaya/Adipati Sanjata. Pada peta 1866 nama Kampung Tambak Bajan sudah tersebut." (mus/nur) Editor : Administrator