Pabrik gula milik Oei Tiong Ham antara lain di Krebet Malang, Rejo Agung Madiun, Ponen Jombang, Tanggulangin Sidoarjo. Kemudian gudang-gudang besar di Kalimas Barat dan Kalimas Timur.
"Belum lagi aset yang tidak kalah besar di Semarang, Batavia, Bangkok, Singapura, Calcutta, Hongkong, Shanghai, London," kata Kuncarsono Prasetyo, pemerhati sejarah Surabaya.
Surabaya sebagai kota terbesar kedua tentu saja tak luput dari cengkeraman bisnis Oei Tiong Ham. Kantor administrasi PG Oei Tiong Ham berada di Jalan Kembang Jepun 180-184. Saat ini dipakai oleh sebuah bank swasta nasional.
Tak jauh dari Kembang Jepun, tepatnya di Jalan Karet 74 Surabaya berdiri megah kantor Kian Gwan Concern. Yakni holding atau perusahaan induk Oei Tiong Ham yang menangani berbagai jenis usaha.
"Kian Gwan dulu benar-benar menggurita. Tidak hanya di Indonesia tapi juga luar negeri," kata Yahya Zakaria dari komunitas Jejak Petjinan.
Sayang, gurita bisnis Oei Tiong Ham tak bisa bertahan lama. Perubahan politik di tanah air hingga nasionalisasi aset-aset asing membuat riwayat Kian Gwan dan bisnis Oei Tiong Ham tamat. "Oei Tiong Ham sendiri sudah meninggal dunia jauh sebelum kemerdekaan," kata Yahya.
Kian Gwan Convern di Jalan Karet 74, bersebelahan dengan Rumah Sembahyang Keluarga Han, masih ada hingga kini. Namun sudah berubah nama menjadi Rajawali Nusindo. PT Rajawali Indonesia memang jadi manajemen berbagai aset eks Kian Gwan dan Oei Tiong Ham.
Sayang, bangunan tua di Pecinan Kulon 74 (nama lama Jalan Karet) terkesan kurang terawat. (rek) Editor : Lambertus Hurek