Pemerhati sejarah kota Surabaya Nanang Purwono menuturkan, saat itu Kaliasin dikenal dengan sebutan Kaliasin Straat. Lokasinya mulai ujung Jalan Urip Sumoharjo sampai Jalan Embong Malang. Mengapa disebut Kaliasin? Rupanya penamaan Kaliasin bukan tanpa alasan.
Kala itu kawasan tengah kota, daerah Simpang, air dari sungai Kalimas di belakang Gedung Negara Grahadi kerap meluber saat air laut pasang. Air yang meluber tersebut bahkan sampai ke kawasan kampung Surabayan.
Kampung Surabayan sendiri berada di lahan kering yang bernama Bobot Tegal Sekar atau sekarang Bobot Tegalsari yang saat ini disebut Tegalsari. Nah, luberan air laut yang pasang tersebut terasa asin saat meluber ke kawasan tersebut.
"Karena banyak masyarakat kala itu yang menggunakan dan memanfaatkan luberan air laut tersebut untuk dikonsumsi, maka masyarakat menyebutnya dengan air Kali Asin atau yang artinya air sungai yang terasa asin," papar Ketua Begandeing Suroboyo ini.
Nah, seringnya masyarakat yang menyebut dengan kata Kali Asin, maka seorang tokoh yang disegani kala itu menetapkan kawasan itu dengan sebutan Kaliasin. "Rupanya pada 1912, pemerintah Hindia Belanda terpaksa membangun pintu air alias dam Jagir di Wonokromo," imbuhnya.
Tujuannya saat itu tak lain adalah karena untuk mengurangi debit luberan air laut yang meluber melalui Kalimas di pusat kota. "Sebab saat itu kawasan itu adalah pusat pemerintahan. Nah, nama Kaliasin akhirnya tetap dipertahankan oleh Hindia Belanda saat itu," pungkasnya. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek