"Kenapa dinamakan Plampitan? Karena dahulu di sini banyak orang perajin lampit bahanya dari rotan (jadi tikar). Makanya dinamakan kampung Plampitan," ujar Djarot kepada Radar Surabaya.
Dijelaskan Djarot, cerita tersebut berdasarkan dari penuturan sesepuh atau orang tua kampung. Menurutnya, setelah berkembangnya zaman warga Plampitan sudah tidak ada yang menjadi perajin anyaman lampit.
Di Kampung Plampitan, lanjut Gatot, juga banyak menyimpan jejak sejarah. Salah satunya adalah Rumah Kelahiran Roeslan Abdul Gani yang ada di Jalan Plampitan VIII. Tak jauh dari rumah Roeslan Abdul Gani juga terdapat rumah pejuang Achmad Jaiz dan masjid tempat dakwah pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan tokoh ulama lainnya.
"Di masjid yang dulu surau tokoh-tokoh pejuang juga biasa rapat di situ," ungkapnya. Di antaranya, Bung Karno, Ruslan Abdul Gani, Doel Arnowo, dan Achmad Jaiz.
Sementara itu anggota Begandring Soerabaia Nanang Purwono menambahkan, kawasan Kampung Plampitan merupakan kampung lawas. Pada masa Keraton kawasan Plampitan yang berada di sisi timur keraton dan Kalimas merupakan kawasan tempat para pekerja. "Dinamakan Plampitan karena di lokasi tersebut dahulu banyak pekerja pembuat tikar," sebutnya.
Di sisi timur Kalimas, lanjut Nanang, selain terdapat Kampung Plampitan juga ada kampung yang menggambarkan kawasan tempat pekerja. Seperti, Jagalan, tempat jagal, dan Pandean kawasan yang digunakan sentra pande besi.
"Di sisi timur Kalimas merupakan kawasan pekerja, sedangkan di sisi barat Kalimas sekitar Keraton tempat punggawa keraton. Makanya ada nama kampung Patihan, Carikan, Tumenggungan dan lainnya," tukasnya. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek