Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto mengatakan, gedung ini menghadap ke sungai di sebelah utara. Kemudian pada 1802, letak gedung ini diubah menghadap ke selatan. "Karena memang zaman dahulu Belanda ingin menciptakan suasana Eropa di Surabaya. Yakni transportasinya menggunakan perahu sehingga kala itu banyak bangunan Belanda yang menghadap ke sungai," katanya, Senin (8/11).
Selain itu menurutnya, bangunan menghadap ke sungai memiliki fengshui yang bagus. Freddy mengatakan, bangunan gedung Grahadi menurutnya khas tropis. "Yakni atap yang tinggi dengan jendela besar. Gedung ini kini menjadi aula pertemuan sekaligus rumah dinas bagi Gubernur Jawa Timur. Gedung ini juga sering dipergunakan untuk upacara, dan acara-acara lainnya," jelasnya.
Gedung Grahadi memiliki dua lantai, memiliki luas bangunan induk 2.016 meter persegi, bangunan penunjang 4.125,75 meter persegi dan terletak di atas tanah seluas 16.284 meter persegi. Pada lantai satu dalam gedung terbagi menjadi beberapa ruangan antara lain ruang tamu dan ruang rapat.
Lebih lanjut Freddy menuturkan, gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda, W Lemci. Sebelumnya gedung ini dikenal dengan nama Tuinhuis. Dibangun pada 1794-1798 pada masa kekuasaan Belanda Dirk Van Hogendorp. "Pada 1799-1809, gedung ini ditempati oleh Fredrik Jacob Rothenbuhler," ujarnya.
Kemudian pada 1810, masa pemerintahan Herman William Daendels, bangunan tersebut direnovasi menjadi empire style atau Dutch Collonial Villa. Pada 1870, bangunan ini digunakan untuk rumah residen Surabaya. "Lalu pada masa pemerintahan Jepang digunakan untuk rumah Gubernur Jepang," katanya. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek