RADAR SURABAYA - Kedatangan Cornelis Speelman di Surabaya pada abad ke-17 membawa perubahan signifikan bagi kota ini.
Meski belum menjabat sebagai Gubernur Jenderal tahun 1681-1684, Speelman langsung menghadapi tantangan dari Trunojoyo.
Trunojoyo dikenal memiliki kekuatan besar. Benteng di Paseban dulunya menjadi pusat pemerintahan lokal, lalu menjadikawasan perkampungan Kraton.
Trunojoyo yang memusuhi Amangkurat I dan II, dianggap musuh oleh Speelman karena aliansi VOC dan Mataram.
Pemerhati sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan, meski pembangunan Surabaya dilakukan setelah kekalahan Trunojoyo tahu 1678, Speelman tetap merasa perlu membangun tembok pertahanan.
"Tembok ini dikenal sebagai Benteng Belvedere, yang kini lokasinya menjadi Jembatan Merah Plaza I," tutur Nanang.
Benteng Belvedere dilengkapi infrastruktur pendukung misi perdagangan VOC di Hindia Belanda, seperti bengkel konstruksi persenjataan, fasilitas militer, kantor bea cukai, dan galangan kapal.
"Di bawah kepemimpinan Speelman, tak hanya Benteng Belvedere yang dibangun lengkap, tapi juga dilakukan perluasan wilayah kota," jelasnya.
Nanang menjelaskan wilayah kota dilebarkan untuk menampung pertumbuhan dan kebutuhan kota.
Ia menyebut berdasarkan peta Surabaya lama tahun 1866 dan 1897, luas dan batas tembok kota meliputi jalan sebelah timur Monumen Pertempuran Surabaya di kompleks Jembatan Merah Plaza hingga Jalan Jembatan Merah batas tembok timur, Jalan Cendrawasih dan Jalan Merak batas tembok selatan, Jalan Krembangan Timur, memotong Jalan Rajawali dan lurus ke utara hingga ujung jalan Garuda batas tembok barat, serta situs tembok utara yang berada di Jalan Garuda dan bertemu ujung utara jalan di timur sekitar Monumen Pertempuran Surabaya.
"Pembangunan kota di selatan Benteng Belvedere juga dilengkapi tembok kota yang menjadi tembok kota pertama di Surabaya," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa