RADAR SURABAYA - Di Surabaya ada dua kawasan delta sungai. Yakni, delta Peneleh dan delta Jagir.
Dari kedua delta sungai ini, usia delta Peneleh jauh lebih tua.
Delta Peneleh terbentuk secara alami karena proses sedimentasi yang terjadi selama ber abad-abad.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, proses sedimentasi Peneleh di antara dua sungai (Kalimas dan Pegirian) yang terjadi secara gradual dan kronologis dapat diamati dari hadirnya peradaban di sana.
Peradaban yang lebih tua diidentifikasi berada di lahan sedimentasi yang lebih awal.
Awal sedimentasi ini berada di selatan kawasan delta, yaitu Pandean Peneleh.
"Delta sungai berperan penting dalam peradaban manusia karena lokasi delta merupakan pusat produksi sumber makanan dan permukiman. Delta juga memberikan perlindungan terhadap garis pantai dan mempengaruhi suplai air minum," katanya.
Nanang menambahkan, dari sudut pandang ekologi, delta memegang peran penting sebagai tempat tinggal berbagai spesies, termasuk manusia.
Ini terbukti dengan adanya temuan benda arkeologi berupa sumur Jobong di Kampung Pandean, Peneleh.
Sumur adalah sebuah sumber mata air, yang didapat dengan cara menggali tanah.
Sebuah sumur tradisional biasanya berbentuk lubang tanah, yang kemudian diberi dinding.
Sementara jobong adalah model teknologi sumur, yang secara fisik berbentuk silinder dan terbuat dari terakota. Jobong inilah yang dipakai sebagai dinding sumur.
Kedalaman sumur akan menentukan jumlah jobong yang dipasang. Semakin dalam sumber air dari galian, berarti semakin banyak jobong yang dipasang.
Sumur jobong terdiri dari tumpukan silinder yang disusun ke dalam sesuai dengan dalamnya galian.
"Di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, banyak ditemukan sumur-sumur kuno seperti ini sebagai bagian dari kebutuhan domestik. Ternyata di Surabaya juga ditemukan sumur jobong. Temuan sumur jobong di Pandean Peneleh pada 2018 itu adalah satu satunya temuan arkeologi dan masih in-situ keberadaannya," katanya. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari