Setelah Frans Jacob Hubert Bayer mengalami kesulitan untuk mengolah industri bernama De Phoenix. Akhirnya Buyer menjual usahanya ke pemerintah.
Fajar Yuliyanto-Wartawan Radar Surabaya
Dengan keputusan tanggal 4 April 1844 dan usahanya dibeli oleh pemerintah seharga 100 ribu gulden.
Kemudian Buyer kembali mendirikan sebuah pabrik baru yaitu De Volharding dan dibantu oleh banyak orang untuk usaha pabrik tersebut.
“Nah puncaknya sekitar tahun 1860 dan industri dan bengkel-bengkel pemerintah mulai dibuka,” kata Pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Menurutnya, ada lima pabrik, pertama pabrik bagi angkatan laut dan peralatan uap.
Pabrik ini dikembangkan dari bekas bengkel konstruksi yang sejak 1 Januari 1851 difungsikan sebagai lembaga khusus di bawah pengelolaan departemen angkatan laut dan khususnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan peralatan laut dan uap kerajaan.
Tetapi juga bisa digunakan bagi pekerjaan umum dan departemen pemerintahan umum lainnya.
Kedua, bengkel konstruksi artileri yang peralatannya juga disebutkan setelah pabrik Phoenix yang disebutkan di atas diambil alih oleh pemerintah dari Bayer.
Artillerie Constructie Winkel atau A.C.W. hanya dimaksudkan bagi pembuatan peralatan perang demi kepentingan angkatan darat.
Ketiga, kompleks angkatan laut dengan galangan kayu negara dan geladak pendorong, yang terutama digunakan bagi pembuatan dan reparasi peralatan kapal perang.
Keempat bengkel pengairan yang pada mulanya hampir semata-mata melakukan pekerjaan untuk menyelesaikan pembangunan kompleks armada dan untuk membuka tembok keliling di sepanjang tepi Kalimas.
Dan kelima bengkel Zeni bagi pembukaan proyek pertahanan, di mana selama puluhan tahun kira-kira seribu tenaga setiap hari bekerja.
“Jadi saat itu ada lima pabrik yang besar di kawasan utara Surabaya. Itu menjadi awal industrialisasi yang kemudian semakin berkembang,” terangnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto