KALIMAS dalam sejarah mempunyai peran yang cukup penting bagi Kota Surabaya.
Sejak dahulu, Kalimas merupakan salah satu jalur dan alur transportasi utama yang mewarnai sejarah perkembangan kota Surabaya.
"Aliran sungai Kalimas menjadi kunci saat itu. Karena menjadi akses urusan kenegaraan bagi bangsa lain. Sehingga, Surabaya menjadi wilayah utama.
Tentunya melintasi Surabaya, kapal-kapal melakukan perizinan atau pengecekan di kantor administrasi," kata pegiat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan.
Saat zaman kolonial, Surabaya menjadi sebuah distrik bersifat karesidenan. Julukan Gerbang Indonesia Timur merujuk pada fungsi sebagai pusat pelabuhan, perdagangan, dan industri. Sebagian komoditi dari pedalaman Jatim melewati Surabaya.
Wawan menambahkan, Kalimas berhenti jadi jalur transportasi air semenjak jalur kereta api dibangun di kota ini sekitar tahun 1860-an. Lalu otomotif juga mulai masuk dan digunakan di akhir abad 19.
"Jalur air ketika itu dianggap kurang relate, sebab memasuki abad 20 revolusi industri terjadi hampir di seluruh benua. Penggunaan jalur sungai dan transportasi tradisional seperti dokar dianggap ketinggalan zaman. Negara-negara kolonial bersaing melakukan pembaruan tranportasi berikut jalurnya," paparnya.
Meski demikian, menurut Wawan, kejayaan transportasi air masih terlihat hingga kini, yaitu keberadaan pasar kuno yang letaknya tak jauh dari sungai seperti pasar Pabean, Genteng, Keputran hingga pasar Wonokromo.
"Berhentinya Kalimas sebagai jalur transportasi juga karena sedimentasi, konon dahulu kali Surabaya begitu luas. Namun lambat laut mengalami penyempitan dan pendangkalan. Sehingga kapal-kapal yang berukuran lumayan susah bermanuver di perairan Surabaya," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Jay Wijayanto