SURABAYA - Gusur menggusur sudah ada sejak dulu kala. Salah satunya terjadi pada perkampungan lawas Djimerto atau Jimerto.
Kawasan ini sebelum kolonial Belanda datang merupakan pemukiman atau perkampungan warga bumiputera. Mereka akhirnya terusir setelah Belanda mulai memindahkan pusat pemerintahan Surabaya dari Jembatan Merah ke wilayah tersebut.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, kampung Djimerto dulunya merupakan pemukiman warga asli Surabaya. Pemukiman atau kampung lawas ini sudah ada sejak abad ke-17.
Hal ini terlihat dari peta Surabaya tahun 1825 ada Djimerto di dalamnya sebagai sebuah perkampungan. "Kampung lawas ini sudah ada sejak zaman Keraton Surabaya," ujarnya.
Ia menambahkan, kampung ini berada tak jauh dari sungai Kalimas. Sisi utara perkampungan ini terdapat area persawahan yang cukup luas.
Kemudian, setelah pembangunan pusat pemerintahan dilakukan oleh Belanda, warga yang nempati kampung ini terusir.
"Kawasan ini menjadi rumah loji milik orang-orang Eropa. Mereka tergusur dari tanah kelahirannya menjadi musafir di negerinya sendiri," terangnya. (gun/nur)
Editor : Jay Wijayanto