RADAR SURABAYA - Di depan RSUD Nganjuk, sebuah gerobak bakso sederhana menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena aroma kuah bakso yang menggoda, tetapi juga penampilan penjualnya yang tak biasa, bersetelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu pantofel, ala-ala CEO di drama Cina (dracin).
Pria itu adalah Suwandi, akrab disapa Cak Wandi, yang sejak beberapa tahun terakhir memilih gaya formal saat berjualan.
Penampilannya yang menyerupai eksekutif kantor justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan, sekaligus strategi kreatif untuk bertahan di tengah persaingan usaha kuliner.
Cak Wandi mengisahkan bahwa ide berjualan dengan pakaian formal muncul saat pandemi Covid-19 melanda.
“Awalnya saya pakai baju akad nikah, celana hitam, sepatu pantofel. Untuk dasinya dikasih tetangga. Awalnya malu, tapi ternyata menarik perhatian pembeli,” ujarnya dikutip dari Detikcom.
Sejak tahun 1999, ia sudah berjualan bakso, namun baru pada 2020 ia mulai tampil berbeda. Dengan motor tuanya, ia berkeliling dari Desa Macanan, Kecamatan Loceret, hingga ke berbagai tempat wisata seperti Roro Kuning.
“Alhamdulillah banyak pelanggan karena penampilan saya ini. Sehari rata-rata habis 40 porsi,” kata pria 42 tahun itu.
Berkat ketekunannya, ia mampu menyekolahkan anak pertamanya hingga lulus SMA dari hasil berjualan bakso.
Setiap hari, kecuali Jumat, Cak Wandi berjualan mulai pukul 10.30 WIB hingga 20.00 WIB. Seporsi bakso berisi satu pentol besar, empat pentol kecil, dan satu gorengan, dibanderol Rp 10 ribu. Musik dangdut dari gerobaknya menjadi hiburan tambahan bagi pelanggan yang datang.
Kisah Cak Wandi membuktikan bahwa kreativitas dan konsistensi bisa menjadi kunci bertahan di tengah tantangan ekonomi. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari