alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Disidak Satgas, Pedagang Curhat Sepi Pembeli setelah Penerapan PSBB

GRESIK–Kedatangan Tim Satgas Pangan bersama Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) tidak disia-siakan pedagang. Mereka menyampaikan keluhan sepinya pembeli setelah penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Tak tanggung-tanggung, penurunan omzet penjualan para pedagang mencapai 70 persen.

Seperti yang disampaikan  Sumiati salah satu pedagang sayuran. Ia mengatakan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kabupaten Gresik membuat omzet dagangannya turun. Pembeli jarang ke pasar.

“Mungkin dikira pasar tutup. Omzet turun 70 persen lebih,” ujar wanita berusia 40 tahun ini.

Dia hanya bisa pasrah dengan kondisi ini. Pihaknya berharap agar pandemi bisa segera berakhir dan ada solusi dari pemerintah.  “Saya berharap pandemi ini segera berakhir sebab saat ini kondisinya benar-benar sepi pembeli,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik, Agus Budiono mengungkapkan kedatangan tim ini untuk memantau stok sembako. Dan hasilnya stok masih aman hingga Hari Raya Idul Fitri.

“Di samping itu harga sembako juga stabil. Memang sempat mengalami kenaikan namun sudah turun dibanding minggu lalu seperti bawang merah dan gula,” terangnya.

Dijelaskan, harga gula sekarang sudah turun harganya rata-rata Rp16 ribu dan Rp 17 ribu. Telur, daging ayam, daging sapi semua turun. “Banyak pedagang mengalami penurunan karena memanh jarang ada interasksi pembeli selama PSBB,” ucapnya.

Ditambahkan, pihaknya juga meminta masyarakat untuk tetap bersabar. Serta tetap mengikuti protokol kesehatan. Sebab, jika tidak dilakukan, maka bisa-bisa akan ditutup total. “Kalau kedapatan ada yang positif bisa ditutup sementara waktu,” imbuhnya.

Terpisah, Kapolres Gresik, AKBP Kusworo Wibowo berharap agar masyarakat tetap tenang dalam menghadapi pandemi Covid 19 dengan mentaati anjuran pemerintah.

“Masyarakat tidak perlu melakukan pembelian besar-besaran hal itu akan memicu terjadinya panic buying,” kata dia. (fir/rof)

GRESIK–Kedatangan Tim Satgas Pangan bersama Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) tidak disia-siakan pedagang. Mereka menyampaikan keluhan sepinya pembeli setelah penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Tak tanggung-tanggung, penurunan omzet penjualan para pedagang mencapai 70 persen.

Seperti yang disampaikan  Sumiati salah satu pedagang sayuran. Ia mengatakan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kabupaten Gresik membuat omzet dagangannya turun. Pembeli jarang ke pasar.

“Mungkin dikira pasar tutup. Omzet turun 70 persen lebih,” ujar wanita berusia 40 tahun ini.

Dia hanya bisa pasrah dengan kondisi ini. Pihaknya berharap agar pandemi bisa segera berakhir dan ada solusi dari pemerintah.  “Saya berharap pandemi ini segera berakhir sebab saat ini kondisinya benar-benar sepi pembeli,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik, Agus Budiono mengungkapkan kedatangan tim ini untuk memantau stok sembako. Dan hasilnya stok masih aman hingga Hari Raya Idul Fitri.

“Di samping itu harga sembako juga stabil. Memang sempat mengalami kenaikan namun sudah turun dibanding minggu lalu seperti bawang merah dan gula,” terangnya.

Dijelaskan, harga gula sekarang sudah turun harganya rata-rata Rp16 ribu dan Rp 17 ribu. Telur, daging ayam, daging sapi semua turun. “Banyak pedagang mengalami penurunan karena memanh jarang ada interasksi pembeli selama PSBB,” ucapnya.

Ditambahkan, pihaknya juga meminta masyarakat untuk tetap bersabar. Serta tetap mengikuti protokol kesehatan. Sebab, jika tidak dilakukan, maka bisa-bisa akan ditutup total. “Kalau kedapatan ada yang positif bisa ditutup sementara waktu,” imbuhnya.

Terpisah, Kapolres Gresik, AKBP Kusworo Wibowo berharap agar masyarakat tetap tenang dalam menghadapi pandemi Covid 19 dengan mentaati anjuran pemerintah.

“Masyarakat tidak perlu melakukan pembelian besar-besaran hal itu akan memicu terjadinya panic buying,” kata dia. (fir/rof)

Most Read

Berita Terbaru


/