
RADAR SURABAYA – Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menghadiri langsung partai final Turnamen Bahlil Mini Soccer Asyik Menuju Puncak di Lapangan THOR, Surabaya, Minggu (18/10). Tak sekadar menyaksikan pertandingan, Bahlil juga menyerahkan trofi kepada para juara sekaligus mengapresiasi sportivitas generasi muda melalui kompetisi sepak bola antarpelajar tersebut.
Turnamen yang digelar DPD Partai Golkar Jawa Timur itu mencatatkan prestasi di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Sebanyak 176 tim dengan total 2.640 pemain dan ofisial terlibat dalam kompetisi tersebut, menjadikannya turnamen mini soccer antarpelajar dengan jumlah tim terbanyak yang tercatat di MURI.
Di partai final, SMAN 3 Bojonegoro berhadapan dengan SMAN Ngoro Jombang. SMAN 3 Bojonegoro keluar sebagai juara setelah mengalahkanSMAN Ngoro Jombang 5-2.
Baca Juga: Satreskrim Polres Tanjung Perak Awasi Distribusi BBM di Surabaya
Bahlil menilai, turnamen ini bukan sekadar ajang perebutan trofi dan hadiah. Lebih dari itu, kompetisi olahraga dapat menjadi sarana pembentukan karakter, terutama dalam menanamkan nilai sportivitas, kerja sama, kedisiplinan, dan semangat berkompetisi secara sehat.
“Main bola ini sebenarnya filosofinya sederhana. Tapi kalau kita menjiwai, ada proses pertarungan yang fair, ada kesehatan, ada militansi, ada kerja sama,” kata Bahlil di hadapan peserta dan tamu undangan.
Ia kemudian mengaitkan nilai-nilai dalam sepak bola dengan kehidupan politik. Menurutnya, kompetisi harus dijalani dengan kesiapan menerima hasil, baik kemenangan maupun kekalahan. Sikap tersebut dinilai penting untuk membangun budaya politik yang sehat dan tidak semata-mata digerakkan oleh perasaan atau kepentingan pribadi.
“Rata-rata kalau kita berpolitik selalu membawa perasaan. Politik itu fair-fair saja, sama dengan main bola. Menang, ya sudah menang. Kalau kalah, ya sudah kalah. Tunggu pertandingan lagi, baru ikut main untuk merebut kemenangan,” ujarnya.
Bahlil mengingatkan, keinginan meraih kemenangan harus dibarengi perjuangan yang sungguh-sungguh. Seseorang tidak bisa hanya menginginkan hasil akhir tanpa melewati proses dan persaingan yang adil.
“Jangan kalah dalam bermain bola, tapi pengin mendapatkan piala. Kalau pengin mendapatkan piala, berjuanglah sebesar-besarnya untuk memenangkan kompetisi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi generasi Z dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Keterlibatan ratusan tim pelajar dalam turnamen tersebut, menurutnya, menjadi gambaran bahwa anak muda memiliki ruang untuk berkembang melalui kegiatan positif dan kompetitif.



