alexametrics
28 C
Surabaya
Tuesday, May 24, 2022

Kemendikbudristek Gelar Sarasehan Anggoro Kasih di Pondok Pesantren

SIDOARJO – Dalam upaya merawat keberagaman, Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi menggelar Sarasehan Anggoro Kasih secara tatap muka, Senin 25 Oktober 2021.

Kegiatan bekerja sama dengan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI). Yaitu, organisasi wadah yang menghimpun organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang sifatnya legal dan sudah berbadan hukum. Kegiatan kali ini berbeda dari yang sebelumnya, karena diadakan di pondok pesantren. Tepatnya di Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal Wafa, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.
Tentu saja kegiatan yang berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban tetap dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA), Sjamsul Hadi mengatakan, kegiatan Sarasehan Anggoro Kasih merupakan sebuah forum diskusi untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai dan sistem Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini rutin dilaksanakan pada hari Senin malam atau malam Selasa Kliwon. Pemilihan pondok pesantren dengan mengundang berbagai elemen masyarakat yang berasal dari latar belakang berbagai agama dan kepercayaan,” papar Sjamsul.

Baca Juga :  Sehari Ada 20 Kasus Baru, Positivity Rate Naik 9% Pasca-Lebaran

Sjamsul menambahkan, Sarasehan Anggoro Kasih merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa cinta kasih baik antarumat beragama dan penghayat kepercayaan maupun masyarakat pada umumnya.

“Intinya tujuan kami adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama dan berkepercayaan itu dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan cinta tanah air,” jelasnya.

Sehingga dalam Sarasehan Anggoro Kasih kali ini melibatkan banyak elemen masyarakat yang berlatar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda.

“Darma dalam agama dan Darma dalam bernegara menjadi tema Sarasehan Anggoro Kasih,” katanya.

Kegiatan Sarasehan Anggoro Kasih kali ini menghadirkan pembicara KH. Mohammad Nizam As-Shofa sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal Wafa, Naen Soeryono sebagai Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), dan Dr. Akhol Firdaus sebagai perwakilan dari akademisi.

Baca Juga :  Karena Sudah Tua dan Keropos, Pipa PDAM Surya Bocor Lagi

“Semoga Sarasehan Anggoro Kasih menjadi sebuah arena diskusi untuk menggali nilai nilai luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat dipahami dan diinternalisasikan nilai-nilai budaya spiritual dan kearifan lokalnya,” pungkas Sjamsul.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal Wafa KH Mohammad Nizam As Shofa menjelaskan, agama merupakan nasihat yang dimiliki oleh Allah, Rasulullah dan orang yang beriman. Agama adalah keluhuran budi yang membuat seseorang berakhlak mulia, dan merupakan kecerdasan pola pikir. Semua agama mengajak kasih yang tidak pilih kasih.

“Semakin tinggi agamanya maka semakin tinggi pula rasa kemanusiaan yang beradabnya,” ucapnya.

Sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai Rahmatan Lil Al-Amin dalam berbangsa dan bernegara dapat ditempuh dalam tiga jalur pendidikan. Yaitu jalur pendidikan informal, jalur pendidikan nonformal dan pendidikan formal. (adv/vga/jay)

SIDOARJO – Dalam upaya merawat keberagaman, Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi menggelar Sarasehan Anggoro Kasih secara tatap muka, Senin 25 Oktober 2021.

Kegiatan bekerja sama dengan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI). Yaitu, organisasi wadah yang menghimpun organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang sifatnya legal dan sudah berbadan hukum. Kegiatan kali ini berbeda dari yang sebelumnya, karena diadakan di pondok pesantren. Tepatnya di Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal Wafa, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.
Tentu saja kegiatan yang berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban tetap dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA), Sjamsul Hadi mengatakan, kegiatan Sarasehan Anggoro Kasih merupakan sebuah forum diskusi untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai dan sistem Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini rutin dilaksanakan pada hari Senin malam atau malam Selasa Kliwon. Pemilihan pondok pesantren dengan mengundang berbagai elemen masyarakat yang berasal dari latar belakang berbagai agama dan kepercayaan,” papar Sjamsul.

Baca Juga :  Tolak Revisi UU KPK dan RKUHP, Ribuan Mahasiswa Kepung Dewan

Sjamsul menambahkan, Sarasehan Anggoro Kasih merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa cinta kasih baik antarumat beragama dan penghayat kepercayaan maupun masyarakat pada umumnya.

“Intinya tujuan kami adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama dan berkepercayaan itu dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan cinta tanah air,” jelasnya.

Sehingga dalam Sarasehan Anggoro Kasih kali ini melibatkan banyak elemen masyarakat yang berlatar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda.

“Darma dalam agama dan Darma dalam bernegara menjadi tema Sarasehan Anggoro Kasih,” katanya.

Kegiatan Sarasehan Anggoro Kasih kali ini menghadirkan pembicara KH. Mohammad Nizam As-Shofa sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal Wafa, Naen Soeryono sebagai Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), dan Dr. Akhol Firdaus sebagai perwakilan dari akademisi.

Baca Juga :  Disidak Satgas, Pedagang Curhat Sepi Pembeli setelah Penerapan PSBB

“Semoga Sarasehan Anggoro Kasih menjadi sebuah arena diskusi untuk menggali nilai nilai luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat dipahami dan diinternalisasikan nilai-nilai budaya spiritual dan kearifan lokalnya,” pungkas Sjamsul.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal Wafa KH Mohammad Nizam As Shofa menjelaskan, agama merupakan nasihat yang dimiliki oleh Allah, Rasulullah dan orang yang beriman. Agama adalah keluhuran budi yang membuat seseorang berakhlak mulia, dan merupakan kecerdasan pola pikir. Semua agama mengajak kasih yang tidak pilih kasih.

“Semakin tinggi agamanya maka semakin tinggi pula rasa kemanusiaan yang beradabnya,” ucapnya.

Sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai Rahmatan Lil Al-Amin dalam berbangsa dan bernegara dapat ditempuh dalam tiga jalur pendidikan. Yaitu jalur pendidikan informal, jalur pendidikan nonformal dan pendidikan formal. (adv/vga/jay)

Most Read

Berita Terbaru


/