alexametrics
25 C
Surabaya
Thursday, January 27, 2022
spot_img

Susun RPJMD 2021-2026, Pemulihan Ekonomi Jadi Fokus Pembangunan

spot_img

SURABAYA – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) digelar dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2026 Kota Surabaya. 

Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan, semua masukan dan saran dari stakeholder dan berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam menyusun RPJMD Surabaya lima tahun ke depan. Karenanya dia berharap segala masukan itu dapat disampaikan, terutama terkait penanganan Covid-19 dan arah pembangunan Surabaya ke depannya. 

Dalam masa pandemi ini, salah satu langkah yang dibutuhkan adalah bagaimana menghentikan laju penyebaran Covid-19. Namun langkah yang lakukan itu harus seiring pula dengan upaya menggerakan roda perekonomian masyarakat.

“Kalau ekonomi tidak bergerak maka ekonomi Surabaya akan jatuh. Karena itu saya berharap dalam perencanaan ini, kalau itu pembangunan infrastruktur maka rencanakan yang bisa dirasakan langsung manfaatnya untuk masyarakat,” katanya, Kamis (24/6).

Oleh karena itu, Eri ingin supaya anggaran yang direncanakan ke depan harus ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat Surabaya. Hal ini tentunya selaras dengan visi Eri, yakni Gotong Royong Menuju Surabaya Kota Dunia yang Maju, Humanis dan Berkelanjutan.

“Saya berharap bagaimana pembangunan ekonomi terus berjalan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi pandemi seperti ini, pembangunan fisik tetap berjalan tapi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappeko Kota Surabaya Febrina Kusumawati menyebut, data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait grafik Kota Surabaya di tahun 2020. Pertama adalah grafik pertumbuhan ekonomi di Surabaya yang mengalami kontraksi di angka -4,85 persen. Hal ini sebagaimana juga dialami oleh hampir semua kabupaten/kota di Indonesia. “Kontraksi ini terjadi karena memang dampak dari adanya pandemi Covid-19,” katanya. 

Febri mengungkapkan, arah konsentrasi kebijakan di tahun 2022 adalah pemulihan ekonomi dan sosial melalui penguatan sektor strategis dan dukungan terhadap usaha mikro dan sektor informal. “Jadi di tahun 2022 kita fokuskan bagaimana pemulihan ekonomi dan sosial pasca terjadinya Covid-19,” ungkapnya.

Lanjutnya, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Surabaya di tahun 2020 yang mencapai 190,90 juta. Febri menyebut, persentase terbesar PDRB ada di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang mencapai 149.246,76 dan disusul urutan kedua iIndustri pengolahan 107.416,29 serta ketiga penyediaan akomodasi makan dan minum 85.618,58.

“Sedangkan pengangguran terbuka di Surabaya, pada tahun 2020 di angka 9,79 persen. Kemudian, persentase kemiskinan di tahun 2020 tercatat 5,02 persen dari tahun sebelumnya 4,51 persen,” jelasnya.

Grafik catatan selanjutnya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2020 yang naik di angka 82,23 persen, dari tahun 2019 di angka 82,22 persen. Menurut Febri, catatan IPM ini menunjukkan angka yang cukup optimal di tingkat Jatim dan Nasional.

Indek Pembangunan Gender di Surabaya pada tahun 2020, berada pada angka 93,58 persen. Sementara indeks GINI atau ukuran distribusi pendapatan di semua populasi, pada tahun yang sama berada di angka 0,34 persen. Lalu, untuk nilai kepuasan masyarakat pada tahun 2020 ini naik menjadi 86,05 persen dari tahun sebelumnya 83,92 persen. (rmt/nur)

SURABAYA – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) digelar dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2026 Kota Surabaya. 

Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan, semua masukan dan saran dari stakeholder dan berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam menyusun RPJMD Surabaya lima tahun ke depan. Karenanya dia berharap segala masukan itu dapat disampaikan, terutama terkait penanganan Covid-19 dan arah pembangunan Surabaya ke depannya. 

Dalam masa pandemi ini, salah satu langkah yang dibutuhkan adalah bagaimana menghentikan laju penyebaran Covid-19. Namun langkah yang lakukan itu harus seiring pula dengan upaya menggerakan roda perekonomian masyarakat.

“Kalau ekonomi tidak bergerak maka ekonomi Surabaya akan jatuh. Karena itu saya berharap dalam perencanaan ini, kalau itu pembangunan infrastruktur maka rencanakan yang bisa dirasakan langsung manfaatnya untuk masyarakat,” katanya, Kamis (24/6).

Oleh karena itu, Eri ingin supaya anggaran yang direncanakan ke depan harus ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat Surabaya. Hal ini tentunya selaras dengan visi Eri, yakni Gotong Royong Menuju Surabaya Kota Dunia yang Maju, Humanis dan Berkelanjutan.

“Saya berharap bagaimana pembangunan ekonomi terus berjalan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi pandemi seperti ini, pembangunan fisik tetap berjalan tapi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappeko Kota Surabaya Febrina Kusumawati menyebut, data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait grafik Kota Surabaya di tahun 2020. Pertama adalah grafik pertumbuhan ekonomi di Surabaya yang mengalami kontraksi di angka -4,85 persen. Hal ini sebagaimana juga dialami oleh hampir semua kabupaten/kota di Indonesia. “Kontraksi ini terjadi karena memang dampak dari adanya pandemi Covid-19,” katanya. 

Febri mengungkapkan, arah konsentrasi kebijakan di tahun 2022 adalah pemulihan ekonomi dan sosial melalui penguatan sektor strategis dan dukungan terhadap usaha mikro dan sektor informal. “Jadi di tahun 2022 kita fokuskan bagaimana pemulihan ekonomi dan sosial pasca terjadinya Covid-19,” ungkapnya.

Lanjutnya, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Surabaya di tahun 2020 yang mencapai 190,90 juta. Febri menyebut, persentase terbesar PDRB ada di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang mencapai 149.246,76 dan disusul urutan kedua iIndustri pengolahan 107.416,29 serta ketiga penyediaan akomodasi makan dan minum 85.618,58.

“Sedangkan pengangguran terbuka di Surabaya, pada tahun 2020 di angka 9,79 persen. Kemudian, persentase kemiskinan di tahun 2020 tercatat 5,02 persen dari tahun sebelumnya 4,51 persen,” jelasnya.

Grafik catatan selanjutnya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2020 yang naik di angka 82,23 persen, dari tahun 2019 di angka 82,22 persen. Menurut Febri, catatan IPM ini menunjukkan angka yang cukup optimal di tingkat Jatim dan Nasional.

Indek Pembangunan Gender di Surabaya pada tahun 2020, berada pada angka 93,58 persen. Sementara indeks GINI atau ukuran distribusi pendapatan di semua populasi, pada tahun yang sama berada di angka 0,34 persen. Lalu, untuk nilai kepuasan masyarakat pada tahun 2020 ini naik menjadi 86,05 persen dari tahun sebelumnya 83,92 persen. (rmt/nur)

Most Read

Berita Terbaru