25 C
Surabaya
Monday, May 29, 2023

Disbudpar Jatim Gelar Peningkatan Kapasitas Tenaga Juru Pelihara Tahun 2023

SURABAYA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar Kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Juru Pelihara Tahun 2023 dengan tema Cagar Budaya sebagai Potensi Pariwisata Berbasis Budaya di Graha Disbudpar Surabaya, Rabu (8/3). Kegiatan ini diikuti 240 juru pelihara dari berbagai daerah di Jatim.

Kepala Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Provinsi Jatim Dwi Supranto mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan kemampuan teknis Juru pelihara dalam pemanfaatan cagar budaya sebagai potensi pariwisata berbasis budaya.

Kemudian juga memberikan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pengelolaan objek daya tarik wisata dan teknik kepemanduan yang benar kepada juru pelihara. “Meningkatkan kualitas pelayanan juru pelihara dalam menyiapkan cagar budaya agar layak dikunjungi serta menyiapkan informasi kepada wisatawan yang berkunjung,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Provinsi Jatim Dr. Hudiyono, M.Si. mengatakan, Jatim saat ini satu-satunya provinsi yang diharapkan memberikan nilai peningkatan kesejahteraan melalui bidang wisata. Karena tantangan dunia pada era globalisasi, inflasi dan teknologi maka mau tidak mau semua negara akan melakukan inisiasi, kolaborasi dan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pada bidang wisata paling strategis untuk pengembangan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar disumbang dari sektor wisata. Oleh karena itu, Jatim sudah membangun iklim lingkungan yang berkaitan dengan wisata. Jatim mendapatkan target tahun ini bisa mendatangkan wisatawan nusantara maupun asing,” terangnya.

Baca Juga :  Inilah Tren Pengembangan Startup di 2023 versi Praktisi SSI Kemenkominfo
Kepala Disbudpar Provinsi Jatim Dr. Hudiyono, M.Si. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Pembenahan yang dilakukan Pemprov Jatim yakni menambah jumlah even wisata. Di Jatim ada 348 even wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. “Di antara jumlah tersebut, delapan even diakui sebagai even nasional. Kalau even nasional diperkirakan bisa mendatangkan 500 ribu hingga 1 juta wisatawan per even. Di antaranya even-even itu lokasinya ada di cagar budaya. Banyak wisatawan mancanegara yang ingin tahu cagar budaya yang ada,” terangnya.

Maka dari itu, lanjut Hudiyono, peran dari juru pelihara ini menjadi sangat penting bukan hanya merawat cagar budaya. Tapi juga mampu memberikan informasi yang baik terhadap wisatawan mancanegara. “Biasanya wisatawan mancanegara ini tidak hanya ingin mengetahui bentuk bangunan cagar budaya saja, taoi juga sejarah dan peradabannya,” katanya.

Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim Akhmad Jazuli saat memberikan motivasi menyebutkan, berkerja harus didasarkan pada ibadah. Kemudian bekerja sesuai kompetensi. “Ketiga, bangun tim yang profesional dan proporsional. Keempat, manusia selalu dihadapkan tantangan dan problematika, dan kelima, setiap masalah ada solusi,” tuturnya.

Baca Juga :  Prihatin Banyak Lahan Jadi Rumah, Pemkot Buat Sungai Baru Cegah Banjir

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah XI Endah Budi Hariyani mengatakan, Pemanfaatan Cagar Budaya berdasarkan PP Nomor 1 Tahun 2022 Pasal 125-131.

Menurutnya, pemanfaatan cagar budaya dapat dilakukan oleh setiap orang yang tujuannya melakukan pengelolaan dalam pemanfaatan untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, dan pariwisata. “Ini dapat dilaksanakan setelah memperoleh izin pemanfaatan dari menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan peringkat cagar budaya,” katanya.

Kedua, pemanfaatan cagar budaya dapat dilakukan oleh setiap orang untuk tujuan kepentingan pribadi dan non komersial yang tidak memerlukan izin pemanfaatan.

“Permohonan izin pemanfaatan  disampaikan melalui surat permohonan dengan melampirkan fotokopi identitas pemohon, dokumen rencana pemanfaatan (terdiri atas: maksud dan tujuan, nama dan lokasi cagar budaya, ruang lingkup, jadwal pelaksanaan, uraian kegiatan, penjamin kegiatan, identitas pemohon, dan personil/peserta. Surat persetujuan dari pemilik atau yang menguasai cagar budaya jika pemohon bukan pemilik atau yang menguasai,” pungkasnya. (mus/nur)

 

SURABAYA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar Kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Juru Pelihara Tahun 2023 dengan tema Cagar Budaya sebagai Potensi Pariwisata Berbasis Budaya di Graha Disbudpar Surabaya, Rabu (8/3). Kegiatan ini diikuti 240 juru pelihara dari berbagai daerah di Jatim.

Kepala Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Provinsi Jatim Dwi Supranto mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan kemampuan teknis Juru pelihara dalam pemanfaatan cagar budaya sebagai potensi pariwisata berbasis budaya.

Kemudian juga memberikan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pengelolaan objek daya tarik wisata dan teknik kepemanduan yang benar kepada juru pelihara. “Meningkatkan kualitas pelayanan juru pelihara dalam menyiapkan cagar budaya agar layak dikunjungi serta menyiapkan informasi kepada wisatawan yang berkunjung,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Provinsi Jatim Dr. Hudiyono, M.Si. mengatakan, Jatim saat ini satu-satunya provinsi yang diharapkan memberikan nilai peningkatan kesejahteraan melalui bidang wisata. Karena tantangan dunia pada era globalisasi, inflasi dan teknologi maka mau tidak mau semua negara akan melakukan inisiasi, kolaborasi dan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pada bidang wisata paling strategis untuk pengembangan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar disumbang dari sektor wisata. Oleh karena itu, Jatim sudah membangun iklim lingkungan yang berkaitan dengan wisata. Jatim mendapatkan target tahun ini bisa mendatangkan wisatawan nusantara maupun asing,” terangnya.

Baca Juga :  ETLE Berlaku untuk Semua Kendaraan Bernomor Polisi Jatim
Kepala Disbudpar Provinsi Jatim Dr. Hudiyono, M.Si. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Pembenahan yang dilakukan Pemprov Jatim yakni menambah jumlah even wisata. Di Jatim ada 348 even wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. “Di antara jumlah tersebut, delapan even diakui sebagai even nasional. Kalau even nasional diperkirakan bisa mendatangkan 500 ribu hingga 1 juta wisatawan per even. Di antaranya even-even itu lokasinya ada di cagar budaya. Banyak wisatawan mancanegara yang ingin tahu cagar budaya yang ada,” terangnya.

Maka dari itu, lanjut Hudiyono, peran dari juru pelihara ini menjadi sangat penting bukan hanya merawat cagar budaya. Tapi juga mampu memberikan informasi yang baik terhadap wisatawan mancanegara. “Biasanya wisatawan mancanegara ini tidak hanya ingin mengetahui bentuk bangunan cagar budaya saja, taoi juga sejarah dan peradabannya,” katanya.

Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim Akhmad Jazuli saat memberikan motivasi menyebutkan, berkerja harus didasarkan pada ibadah. Kemudian bekerja sesuai kompetensi. “Ketiga, bangun tim yang profesional dan proporsional. Keempat, manusia selalu dihadapkan tantangan dan problematika, dan kelima, setiap masalah ada solusi,” tuturnya.

Baca Juga :  Prihatin Banyak Lahan Jadi Rumah, Pemkot Buat Sungai Baru Cegah Banjir

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah XI Endah Budi Hariyani mengatakan, Pemanfaatan Cagar Budaya berdasarkan PP Nomor 1 Tahun 2022 Pasal 125-131.

Menurutnya, pemanfaatan cagar budaya dapat dilakukan oleh setiap orang yang tujuannya melakukan pengelolaan dalam pemanfaatan untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, dan pariwisata. “Ini dapat dilaksanakan setelah memperoleh izin pemanfaatan dari menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan peringkat cagar budaya,” katanya.

Kedua, pemanfaatan cagar budaya dapat dilakukan oleh setiap orang untuk tujuan kepentingan pribadi dan non komersial yang tidak memerlukan izin pemanfaatan.

“Permohonan izin pemanfaatan  disampaikan melalui surat permohonan dengan melampirkan fotokopi identitas pemohon, dokumen rencana pemanfaatan (terdiri atas: maksud dan tujuan, nama dan lokasi cagar budaya, ruang lingkup, jadwal pelaksanaan, uraian kegiatan, penjamin kegiatan, identitas pemohon, dan personil/peserta. Surat persetujuan dari pemilik atau yang menguasai cagar budaya jika pemohon bukan pemilik atau yang menguasai,” pungkasnya. (mus/nur)

 

Most Read

Berita Terbaru