alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

38 Daerah di Jatim Bertahan Masuk Zona Kuning

SURABAYA – Juru Bicara Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril mengatakan, seluruh kabupaten/kota di Jatim masuk zona kuning Covid-19. Ini artinya 38 daerah di Jatim masuk kategori risiko rendah. “Zona kuning di seluruh daerah di Jatim ini sudah bertahan sejak dua minggu terakhir,” tegas Jibril.

Sementara itu, diketahui saat ini sejumlah daerah di Jatim berada pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 2 dan level 3. Untuk level 1 hanya Kota Blitar (lihat tabel).

Level PPKM Jawa Timur ini mengacu pada aturan Inmendagri Nomor 47 Tahun 2021 PPKM Level 4, Level 3, Level 2, dan Level 1 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah luar Jawa dan Bali. Aturan ini ditandatangani Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada 4 Oktober 2021 dan diperuntukkan sebagai arahan untuk kepala daerah, baik itu gubernur, bupati, atau wali kota.

“Sebenarnya ini bukan kenaikan ya. Kalau daerah di Jawa Timur ini banyak yang level 1 (berdasarkan asesmen Kemenkes, Red). Ada 22 kabupaten/kota yang level 1, sedangkan 16 daerah lainnya level 2,” jelasnya.

Jibril menambahkan namun hal ini berbeda dengan Inmendagri. Jadi berdasarkan Inmendagri penilaiannya ditambah, tidak sama dengan asesmen Kementerian Kesehatan. “Kalau asesmen Kemenkes hanya menggunakan laju kasus dan kapasitas respons. Sedangkan Inmendagri, untuk bisa masuk level 2 dan level 1 yakni dengan vaksinasi,” ungkapnya.

Untuk bisa masuk level 2, jelas Jibril, vaksinasi dosis pertama capaiannya minimal 60 persen dan vaksinasi lansia minimal 40 persen. Kemudian untuk bisa masuk level 1, vaksinasi dosis pertama minimal sudah 70 persen dan vaksinasi lansia minimal 60 persen.

“Dan memang untuk bisa masuk level 1 ini sangat berat. Untuk daerah aglomerasi maka harus mengikuti daerah (aglomerasi) yang levelnya paling rendah. Jadi kalau Surabaya secara asesmen sudah level 1, vaksinasi sudah 100 persen lebih, untuk vaksinasi lansia juga sudah 60 persen. Namun karena masuk wilayah aglomerasi, maka Surabaya masuk level 3,” urainya.

Jibril mengatakan dengan adanya penilaian baru ini, daerah tidak boleh egois dan harus saling support. Selain itu vaksinasi lansia harus dikebut. “Vaksinasi lansia di Jatim sudah mencapai 28,6 persen. Untuk Surabaya sudah mencapai 92 persen, sedangkan Pamekasan baru 5,7 persen. Ini artinya vaksinasi lansia butuh effort yang tinggi,” katanya.

Lebih lanjut Jibril meminta masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan adanya gelombang ketiga Covid-19. Menurutnya berdasarkan fakta sebelumnya, kenaikan kasus ini terjadi ketika musim liburan dan akhir tahun.

“Senjata yang paling ampuh mematuhi protokol kesehatan dan vaksinasi. Vaksinasi Jawa Timur ini sudah bagus dibanding provinsi lainnya yakni 43 persen,” ungkapnya.

Ia memprediksi jika terjadi lonjakan kasus tidak seperti tahun sebelumnya, karena saat ini sudah ada vaksinasi. Kecuali, lanjutnya, ada strain mutasi Covid-19 yang baru. “Seperti varian Delta kemarin ditemukan dari deteksi genomic surveillance. Semoga tidak ada varian baru yang masuk dan Covid-19 ini bisa semakin melandai,” pungkasnya. (mus/opi/jay)


SURABAYA – Juru Bicara Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril mengatakan, seluruh kabupaten/kota di Jatim masuk zona kuning Covid-19. Ini artinya 38 daerah di Jatim masuk kategori risiko rendah. “Zona kuning di seluruh daerah di Jatim ini sudah bertahan sejak dua minggu terakhir,” tegas Jibril.

Sementara itu, diketahui saat ini sejumlah daerah di Jatim berada pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 2 dan level 3. Untuk level 1 hanya Kota Blitar (lihat tabel).

Level PPKM Jawa Timur ini mengacu pada aturan Inmendagri Nomor 47 Tahun 2021 PPKM Level 4, Level 3, Level 2, dan Level 1 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah luar Jawa dan Bali. Aturan ini ditandatangani Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada 4 Oktober 2021 dan diperuntukkan sebagai arahan untuk kepala daerah, baik itu gubernur, bupati, atau wali kota.

“Sebenarnya ini bukan kenaikan ya. Kalau daerah di Jawa Timur ini banyak yang level 1 (berdasarkan asesmen Kemenkes, Red). Ada 22 kabupaten/kota yang level 1, sedangkan 16 daerah lainnya level 2,” jelasnya.

Jibril menambahkan namun hal ini berbeda dengan Inmendagri. Jadi berdasarkan Inmendagri penilaiannya ditambah, tidak sama dengan asesmen Kementerian Kesehatan. “Kalau asesmen Kemenkes hanya menggunakan laju kasus dan kapasitas respons. Sedangkan Inmendagri, untuk bisa masuk level 2 dan level 1 yakni dengan vaksinasi,” ungkapnya.

Untuk bisa masuk level 2, jelas Jibril, vaksinasi dosis pertama capaiannya minimal 60 persen dan vaksinasi lansia minimal 40 persen. Kemudian untuk bisa masuk level 1, vaksinasi dosis pertama minimal sudah 70 persen dan vaksinasi lansia minimal 60 persen.

“Dan memang untuk bisa masuk level 1 ini sangat berat. Untuk daerah aglomerasi maka harus mengikuti daerah (aglomerasi) yang levelnya paling rendah. Jadi kalau Surabaya secara asesmen sudah level 1, vaksinasi sudah 100 persen lebih, untuk vaksinasi lansia juga sudah 60 persen. Namun karena masuk wilayah aglomerasi, maka Surabaya masuk level 3,” urainya.

Jibril mengatakan dengan adanya penilaian baru ini, daerah tidak boleh egois dan harus saling support. Selain itu vaksinasi lansia harus dikebut. “Vaksinasi lansia di Jatim sudah mencapai 28,6 persen. Untuk Surabaya sudah mencapai 92 persen, sedangkan Pamekasan baru 5,7 persen. Ini artinya vaksinasi lansia butuh effort yang tinggi,” katanya.

Lebih lanjut Jibril meminta masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan adanya gelombang ketiga Covid-19. Menurutnya berdasarkan fakta sebelumnya, kenaikan kasus ini terjadi ketika musim liburan dan akhir tahun.

“Senjata yang paling ampuh mematuhi protokol kesehatan dan vaksinasi. Vaksinasi Jawa Timur ini sudah bagus dibanding provinsi lainnya yakni 43 persen,” ungkapnya.

Ia memprediksi jika terjadi lonjakan kasus tidak seperti tahun sebelumnya, karena saat ini sudah ada vaksinasi. Kecuali, lanjutnya, ada strain mutasi Covid-19 yang baru. “Seperti varian Delta kemarin ditemukan dari deteksi genomic surveillance. Semoga tidak ada varian baru yang masuk dan Covid-19 ini bisa semakin melandai,” pungkasnya. (mus/opi/jay)



Most Read

Berita Terbaru