RADAR SURABAYA BISNIS - Intermittent fasting kerap menjadi tren pola makan yang diklaim efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik.
Sementara itu, umat muslim setiap tahun menjalankan puasa Ramadan sebagai bentuk ibadah.
Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama mengatur waktu makan, keduanya memiliki perbedaan mendasar baik dari segi tujuan maupun penerapan gizinya.
Ahli Gizi, Mahmud Aditya Rifqi menjelaskan, perbedaan utama terletak pada tujuan pelaksanaannya.
"Puasa ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme," jelasnya, Kamis (19/2).
Secara umum, keduanya menerapkan konsep time-restricted eating atau pengaturan jendela makan.
Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka, dengan larangan makan dan minum selama periode tersebut.
Sedangkan intermittent fasting memiliki variasi pola yang lebih beragam, dengan metode 16:8 sebagai yang paling populer 16 jam berpuasa dan delapan jam waktu makan.
Selain itu, terdapat pula pola 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.
"Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula," terangnya.
Dari sisi ilmu gizi, Mahmud menegaskan pentingnya konsumsi makanan yang beragam, bergizi, dan seimbang.
Menurutnya, kedua bentuk puasa tersebut dapat memberikan manfaat kesehatan.
"Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah," ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan kebutuhan kalori minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).
"Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. Ini dapat menurunkan massa otot," jelasnya.
Dalam praktik intermittent fasting, pengurangan kalori sebaiknya bertahap berkisar 300–500 kkal dari kebutuhan harian dan tidak sampai di bawah batas minimal.
Untuk puasa Ramadan, Mahmud menyarankan agar tidak makan berlebihan setelah berbuka.
"Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani," katanya.
Ia menyarankan pola makan dengan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan selingan sehat bila diperlukan.
Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi, serta konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.
"Puasa ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa