Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jarang Pamer Kekayaan, Ini Alasan Sosiolog di Balik Gaya Hidup Sederhana Para Miliarder Dunia

Muhammad Firman Syah • Jumat, 24 Oktober 2025 | 18:55 WIB
Tak semua orang kaya suka pamer. Bagi miliarder, kesederhanaan adalah bentuk tanggung jawab moral.
Tak semua orang kaya suka pamer. Bagi miliarder, kesederhanaan adalah bentuk tanggung jawab moral.

Radar Surabaya – Ketika banyak orang berlomba menunjukkan kemewahan di media sosial, para miliarder dunia justru memilih jalur berbeda: hidup sederhana dan menjauh dari sorotan soal harta. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik mengapa orang dengan kekayaan luar biasa justru enggan menonjolkan kekayaannya?

Sejumlah penelitian sosiologis menjelaskan bahwa pilihan hidup sederhana para miliarder bukan disebabkan keterbatasan, melainkan wujud kesadaran moral dan nilai sosial yang kuat. Bagi mereka, menahan diri untuk tidak memamerkan kekayaan merupakan bentuk tanggung jawab sosial sekaligus penghormatan terhadap mereka yang tidak seberuntung dirinya.

Ada pepatah yang sering dikutip dalam kajian sosial modern, orang kaya yang baik tidak memamerkan kekayaannya, dan orang kaya yang paling baik adalah mereka yang membelanjakan uangnya seperti orang kebanyakan.

Profesor Sosiologi dari New School for Social Research, New York, Rachel Sherman, meneliti perilaku konsumsi kalangan kaya melalui bukunya Uneasy Street, The Anxieties of Affluence. Dalam riset itu, ia mewawancarai 50 individu kaya di New York dan menemukan bahwa banyak di antara mereka memilih hidup hemat serta berbelanja secara wajar.

Salah satu responden bahkan mengaku melepas label harga roti seharga 6 dolar AS atau sekitar Rp85 ribu agar pengasuh anaknya tidak melihatnya, karena merasa tidak nyaman menunjukkan perbedaan ekonomi yang mencolok.

“Orang kaya yang saya teliti sangat berhati-hati dengan implikasi moral dari privilege yang mereka miliki,” ujar Sherman dikutip dari Vice.

Ia menambahkan, “Kebiasaan hidup hemat menjadi salah satu cara kita menilai apakah orang kaya itu baik secara moral atau tidak.”

Menurut Sherman, gaya hidup hemat bukan sekadar kebiasaan, melainkan simbol kesadaran sosial dan bentuk penghormatan terhadap keberuntungan finansial yang dimiliki seseorang.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Warren Buffett, CEO Berkshire Hathaway dan orang terkaya kelima di dunia. Dikutip dari Yahoo Finance, Buffett tetap tinggal di rumah lamanya di Omaha, Nebraska, yang telah ia huni lebih dari enam dekade. Alih-alih mengoleksi mobil mewah, ia justru mengendarai mobil biasa, Cadillac XTS yang dibelinya pada 2014.

“Sebenarnya, saya hanya berkendara sekitar 3.500 mil per tahun, jadi saya jarang membeli mobil baru,” katanya kepada Forbes.

Buffett juga dikenal tidak mengikuti tren fesyen atau teknologi terbaru. Ia baru beralih ke iPhone pada 2020 setelah bertahun-tahun menggunakan ponsel sederhana.

Contoh serupa datang dari Michael Bambang Hartono, salah satu orang terkaya Indonesia. Meski merupakan konglomerat besar, ia tetap menjaga kesederhanaannya. Hartono masih gemar menikmati jajanan tradisional seperti lentog, kuliner khas Kudus berisi lontong, tahu, tempe, dan sayur nangka makanan dari kampung halamannya yang tetap ia nikmati hingga kini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukanlah penyangkalan terhadap kekayaan, melainkan ekspresi nilai moral dan kesadaran sosial di tengah masyarakat yang semakin konsumtif. (gab/fir)

Editor : M Firman Syah
#kekayaan #Gaya Hidup #miliarder #hidup hemat #moral #pamer