Radar Surabaya - Fenomena victim mentality atau mentalitas korban menjadi perhatian karena dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi persoalan hidup. Pola pikir ini membuat individu cenderung merasa selalu menjadi korban dalam setiap situasi dan enggan mengambil tanggung jawab atas apa yang menimpanya.
Seseorang dengan victim mentality biasanya sering menyalahkan orang lain atau keadaan atas kesulitan yang dialami. Mereka kerap merasa tidak berdaya, pesimis dan menganggap hidup selalu tidak adil. Selain itu, individu dengan pola pikir ini cenderung menolak kritik, sulit menerima bantuan, serta memiliki kepercayaan diri rendah.
Mentalitas korban bisa terbentuk akibat pengalaman masa lalu, seperti trauma, pola asuh yang kurang tepat, atau ketidakmampuan mengelola tekanan. Lingkungan sosial yang kerap memberi simpati berlebihan kepada mereka yang berperan sebagai korban juga memperkuat pola pikir tersebut.
Untuk mengatasinya, langkah awal yang disarankan adalah mengenali pemicu munculnya pola pikir tersebut. Seseorang perlu menantang pikiran negatif, berfokus pada hal-hal positif, serta berani mengambil tanggung jawab atas tindakan sendiri. Melakukan self-care dan berinteraksi dengan lingkungan yang suportif juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Apabila mentalitas korban telah mengganggu kehidupan sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor profesional. Dengan kesadaran dan pendampingan yang tepat, seseorang dapat mengubah cara berpikirnya dan kembali mengendalikan arah hidupnya. (wfq/fir)
Editor : M Firman Syah