Radar Surabaya - Fenomena blind box atau kotak kejutan tengah menjadi gaya hidup baru bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Tren ini tidak sekadar hiburan, melainkan juga simbol identitas dan bentuk self reward yang semakin populer.
Blind box berisi figur atau merchandise dengan isi acak, sehingga pembeli tak pernah tahu karakter apa yang akan didapatkan. Sensasi itulah yang membuat anak muda rela membeli berulang kali demi melengkapi koleksi, bahkan memburu rilisan terbatas agar tidak ketinggalan.
Estetika dan Daya Tarik Visual
Desain miniatur yang lucu dan detail menjadikan blind box cocok dipajang di kamar, meja belajar, hingga dijadikan properti foto.
"Isi blind box biasanya berupa karakter mini atau figur unik dengan desain menarik. Visual estetik ini pas dengan gaya hidup Gen Z yang senang hal-hal Instagramable,: ujar seorang kolektor muda di Surabaya.
Sensasi Kejutan yang Bikin Ketagihan
Pengalaman membuka blind box menghadirkan rasa penasaran tersendiri.
"Kalau dapat karakter yang diincar, apalagi yang langka, rasanya puas sekali," kata seorang pemburu blind box.
Koleksi Sebagai Pencapaian
Bagi sebagian anak muda, menyelesaikan satu seri koleksi dianggap sebagai prestasi.
"Kalau sudah lengkap, rasanya seperti pencapaian tersendiri," ujar penggemar lainnya.
Self Reward dan Efek FOMO
Baca Juga: Fenomena Job Hugging Cara Gen Z Amankan Karier Dan Ekonomi
Dengan harga relatif tinggi untuk ukuran mainan, blind box sering dijadikan hadiah bagi diri sendiri.
"Setelah aktivitas seharian, membeli blind box jadi cara sederhana menyenangkan diri," ungkap seorang mahasiswa.
Faktor lain yang memperkuat tren ini adalah efek FOMO (fear of missing out). Banyak kolektor merasa harus segera memiliki rilisan edisi khusus agar tidak tertinggal. Komunitas kolektor pun bermunculan di berbagai kota, termasuk Surabaya dan Malang, dengan agenda temu kumpul, barter, hingga berburu koleksi bersama.
Blind box kini berkembang menjadi simbol gaya hidup anak muda urban. Dari sekadar mainan, ia menjelma menjadi sarana ekspresi diri, pengikat pertemanan, sekaligus cerminan pola konsumsi Gen Z. Meski begitu, pengamat mengingatkan pentingnya kesadaran finansial agar tren ini tidak menjelma menjadi kebiasaan konsumtif berlebihan. (dwi/ris/fir)
Editor : M Firman Syah