Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Begini Risiko Kesehatan bagi Perempuan yang Memilih Childfree, dari Jantung Koroner hingga Kanker Otak dan Ovarium

Rahmat Sudrajat • Kamis, 14 November 2024 | 18:22 WIB
Ilustrasi pasangan yang memilih childfree.
Ilustrasi pasangan yang memilih childfree.

RADAR SURABAYA - Tak sedikit kaum perempuan yang sudah menikah untuk memilih tidak memiliki anak atau childfree.

Dari data survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) tahun 2023, presentase perempuan usia 15-49 tahun yang memilih childfree di Indonesia sebanyak 8 persen atau 71 ribu orang. Jumlah tersebut diprediksi akan meningkat karena banyak pertimbangan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Rachmad Poedyo Armanto, Sp.OG, mengatakan dampak perempuan yang memilih childfree tidak melakukan proses menyusui pada anak hal ini bisa berisiko mengalami penyakit jantung koroner. 

"Menyusui merupakan faktor pencegah penyakit koroner. Berdasarkan penelitian, perempuan yang menyusui kurang dari 5 bulan berisiko besar mengalami jantung koroner. Apalagi yang tidak menyusui. Risikonya bisa jadi lebih tinggi lagi,” kata, dr. Rachmad, Kamis (14/11).

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa perempuan yang belum pernah hamil juga berisiko tinggi mengalami kanker indung telur. Karena kehamilan dapat mengurangi risiko terjadinya kanker selaput lendir rahim (endometrium) hingga 25 persen.

Sedangkan perempuan pada usia muda yang dengan sengaja tidak hamil dengan menggunakan kontrasepsi hormonal akan mengalami risiko kanker otak.

Photo
Photo

“Risikonya bisa meningkat 1,5 kali lebih tinggi. Apalagi jika penggunaannya lebih dari dua tahun. Bila pemakaiannya jangka panjang lebih dari lima tahun, risikonya meningkat 2,4 kali. Ini untuk golongan progesteron (hormon pada wanita untuk mengatasi gangguan siklus menstruasi dan ovulasi)," terang dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Surabaya (Ubaya) ini.

Hormon estrogen penting untuk perkembangan seksual dan reproduksi pada perempuan. Risikonya lebih besar lagi karena estrogen sifatnya memicu kanker. 

Dengan melihat risiko yang bisa terjadi, dr. Rachmad menilai perlu adanya edukasi sejak dini tentang dampak kesehatan bagi perempuan untuk memilih childfree. 

Karena dari segi medis tidak menganjurkan childfree yang dampaknya tidak menguntungkan bagi kesehatan perempuan. 

"Idealnya, usia kurang dari 35 tahun seorang perempuan sudah melahirkan dan menyusui anak. Hal ini guna menurunkan risiko kanker payudara, indung telur (ovarium), selaput lendir rahim (endometrium), serta penyakit jantung koroner,” ungkapnya.

Sementara itu childfree merupakan istilah yang digunakan untuk menekankan kondisi seseorang yang tidak memiliki anak karena pilihan. (rmt)

Editor : Jay Wijayanto
#perempuan tak punya anak #childfree