RADAR SURABAYA - Istilah "Lolita" mungkin langsung terbayang dalam benak banyak orang sebagai referensi pada novel kontroversial karya Nabokov. Namun, ada sisi lain dari "Lolita" yang jauh lebih ceria dan penuh kreativitas, yaitu Lolita fashion.
Gaya berpakaian ini adalah subkultur Jepang yang tak ada kaitannya dengan novel tersebut, melainkan terinspirasi dari busana era Victoria dan Rococo yang elegan.
Menurut Aryani Widagdo, seorang pakar fashion yang telah terlibat dalam dunia pendidikan mode di Indonesia selama hampir 40 tahun, Lolita fashion dikenal dengan tampilan penuh renda, ruffles, dan sentuhan imut yang tetap mengedepankan kesan elegan.
"Gaya ini memiliki daya tarik tersendiri karena menggabungkan elemen romantis dan klasik dengan sentuhan modern," jelas Aryani.
Lolita fashion sendiri terbagi dalam tiga subgaya utama: Gothic, Classic, dan Sweet, meskipun masih banyak variasi lainnya yang muncul seiring berjalannya waktu.
Subkultur ini pertama kali muncul di kawasan Harajuku, Tokyo, pada dekade 1980-an, saat banyak anak muda berkumpul di jalanan bebas kendaraan untuk berkreasi dan mengekspresikan diri lewat fashion.
"Bagi para penggemar Lolita, gaya ini bukan sekadar kostum, tetapi lebih sebagai fashion statement atau bahkan gaya hidup," ujar Aryani yang masih aktif mengajar desain fashion di Surabaya.
Dari yang manis hingga yang lebih gelap dan edgy seperti gaya punk atau gothic, Lolita memberikan ruang bagi pemakainya untuk menampilkan jati diri dengan cara yang sangat unik dan personal.
Di Surabaya, beberapa penggemar fashion juga mengungkapkan kekagumannya terhadap gaya berpakaian ini. Salah satunya adalah Lany, yang mengaku terpesona dengan tampilan busana mirip "nonik-nonik Belanda" pada masa kolonial yang terlihat elegan dan menarik.
"Sejak remaja, saya selalu menginginkan baju dan gaya seperti itu. Sayangnya, potongan tubuh saya tidak mendukung," katanya sambil tersenyum.
Lolita fashion memang menjadi pilihan yang berani bagi mereka yang ingin menonjolkan sisi feminin dan elegan dengan cara yang berbeda. Meskipun bukan untuk semua orang, keunikan dan pesona gaya ini tetap menarik perhatian banyak orang. (rek)
Editor : Lambertus Hurek