HUJAN deras di kawasan Gresik Selatan menyebabkan sejumlah pemukiman dan gedung sekolah terendam air. Beberapa wilayah yang terendam itu ada di Kecamatan Driyorejo, Menganti dan Kedamean.
Berdasarkan pengamatan, genangan air di Desa Tenaru, Driyorejo menggenangi puluhan rumah. Termasuk juga sejumlah ruang kelas SMP Negeri 1 Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo.
Genangan air membuat guru pengajar yang mengikuti kegiatan Hari Guru terpaksa melepaskan sepatu ketika masuk ke sekolag. Beruntung air tidak sampai masuk kelas dan merusak fasilitas sekolah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik Abu Hasan mengatakan, genangan air yang masuk di sekolahan, diduga drainase mengalami kemacetan. Akibatnya genangan air masuk, karena drainase tidak mampu menampung.
Dikatakan, saat ini pihaknya bersama tim memantau genangan air. Bahkan beberapa sudah disiagakan ke beberapa desa untuk menyiapkan penyelematan bencana banjir. "Petugas kami sudah siap siaga, jadi kalau ada bencana tinggal ditangani," ungkapnya, Minggu kemarin.
Ditambahkan, sekitar 36 desa di seluruh wilayah Gresik berpotensi kebanjiran. Menurutnya, desa-desa tersebut secara geografis terletak di bantaran sungai besar. Diantaranya, sungai Bengawan Solo, Kali Lamong dan sungai Brantas.
Sedangka langkah dilakukan oleh BPBD adalah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Khususnya, mereka yang tinggal di sekitar sungai besar dengan mengoptimalkan desa tangguh bencana.
Terpisah, Aries Gunawan ketua LSM FSPR meminta BPBD menyiapkan langkah darurat agar siswa bisa sekolah, Senin pagi. Kepada Dinas Pekerjaan Umum Gresik, Aries meminta segera menindaklanjuti usulan pengerukan di Kali Tengah di Kecamatan Driyorejo.
"Ini agar kawasan tersebut tidak tergenang setiap musim hujan. Pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jatim sebagai penanggung jawab perawatan sungai tidak pernah menggubris laporan dari lurah, muspika maupun dari masyarakat," kata Ketua LSM FSPR.(yud/ris)
Editor : Administrator