RADAR SURABAYA - Selama bulan Ramadan, setiap daerah di indonesia memiliki tradisi dan budaya masing-masing. Selain sebagai bentuk kemeriahaan pada bulan ramadan, tradisi masing-masing daerah biasaya juga lekat dengan budaya daerah tersebut.
Seperti di pesisir utara Kabupaten Gresik, tepatnya di Kecamatan Ujungpangkah, tradisi membangunkan sahur berubah menjadi panggung budaya yang meriah.
Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, warga setempat kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Ritukan.
Bukan sekadar membangunkan sahur, Ritukan telah berkembang menjadi perpaduan antara syiar religi, seni tradisi, dan kegembiraan masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.
Di Desa Pangkahwetan, tradisi ini menjelma menjadi pawai budaya yang megah. Warga tidak hanya membawa alat musik sederhana, tetapi juga menampilkan atraksi kesenian tradisional seperti Pencak Macan dan Reog.
Suara tetabuhan musik patrol berpadu dengan atraksi seni, menciptakan atmosfer sahur yang semarak dan penuh keceriaan.
Kepala Desa Pangkahwetan, Syaifullah Mahdi, menegaskan bahwa Ritukan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat pesisir.
“Ritukan di Pangkah sudah menjadi warisan nenek moyang. Ini adalah cara kami menikmati sepuluh hari terakhir Ramadan. Semua terlibat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” ujarnya, Kamis (12/3).
Bagi masyarakat pesisir, kehadiran rombongan Ritukan di depan rumah menjadi alarm alami sekaligus pengingat bahwa bulan suci akan segera berakhir.
Tradisi ini biasanya mencapai puncaknya pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan atau yang dikenal dengan malam likuran.
Selain sebagai sarana syiar, Ritukan juga menjadi momentum silaturahmi akbar bagi warga setelah seharian disibukkan dengan aktivitas masing-masing.
Usai pawai berkeliling kampung, warga biasanya kembali ke rumah dengan perasaan gembira untuk bersantap sahur bersama keluarga.
Dalam tiga tahun terakhir, skala kemeriahan Ritukan terus meningkat. Penambahan unsur seni seperti Reog dan Pencak Macan sengaja dilakukan untuk menarik minat generasi muda sekaligus melestarikan budaya lokal Gresik.
Syaifullah menambahkan bahwa tradisi ini kini juga menjadi ajang promosi seni budaya pesisir.
“Kami ingin Ritukan tidak hanya sekadar membangunkan sahur, tapi juga menjadi ajang promosi seni budaya dan mempererat kerukunan warga. Alhamdulillah, setiap tahun antusiasmenya semakin luar biasa,” tutupnya.
Dengan demikian, Ritukan bukan hanya tradisi sahur, melainkan simbol kebersamaan, pelestarian budaya, dan identitas masyarakat pesisir Gresik. (jar)
Editor : Nurista Purnamasari