Aris Toharisman, Direktur Utama SGN menjelaskan, sejak resmi melakukan spin-off pada 10 Oktober 2022, SGN memiliki peran sangat srategis. Tidak hanya menjaga ketahanan pangan, namun juga ketahanan energi. Dimana produk turunan tebu akan diolah menjadi sumber energi bio ethanol.
Sebab itu, untuk mencapai peran sangat penting tersebut, SGN akan melakukan berbagai langkah strategis. Diantaranya adalah lahan kebun tebu harus ditambah lebih luas lagi sehingga produksi gula bisa ditingkatkan.
“SGN mendapatkan dari tugas dari pemerintah pada 2028 bisa mencapai swasembada gula langsung (konsumsi) dan pada 2030 bisa mencapai swasembada gula total (konsumsi dan industri). Sekarang lebih fokus. Sebagai holding yang mengelolah produksi gula, sekarang tidak ada lagi persaingan antar pabrik gula. Sehingga petani juga diuntungkan karena bisa menekan cost,” kata Aris, Senin (17/4).
Dia mengaku, SGN saat ini fokus melakukan pengembangan lahan tebu HGU. Pada 2030, SGN memproyeksikan akan mengelola lahan seluas 670.000 ha dengan jumlah tebu giling hingga 62 juta ton. Tahun lalu, SGN mengelola area seluas 154.000 ha - 160.000 ha. Saat ini sudah bertambah menjadi 175.000 ha.
Penambahan lahan itu berasal dari berbagai sumber. Pertama dari lahan-lahan HGU PTPN Group, yang sebelumnya untuk tanaman non tebu seperti kakao, kini difungsikan menjadi lahan tebu. Tahun diharapkan dari klahan HGU ini bisa bertambah 100 ribu ha. Saat ini baru mencapai 57.000 ha.
Selain itu juga ada lahan Perhutani, seperti program Agroforesty dan perhutanan sosial yang akan dimanfaatkan petani rakyat untuk tanaman tebu yang jumlahnya belum pasti.
Dengan luas lahan yang terus bertambah, pada 2030, SGN menargetkan produktivitas tebu 92 ton/ha, dengan rendemen 8,5 persen. Produksi gula diharapkan bisa mencapai 2,2 juta to - 2,4 juta ton. Jumlah itu kalau ditambah produksi swasta 1,5 juta ton - 2 juta ton, maka akan tercapai produksi 4,9 juta ton. “Itu artinya sudah melebihi dari kebutuhan gula nasional,” tambahnya
Bagaimana kondisi 2023? Dia mengaku masih optimis produksi gula tetap bisa ditingkatkan hingga mencapai 1 juta ton. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari produksi tahun lalu yakni 850.000 ton. Untuk mencapai tersebut diperlukan produksi tebu sebanyak 17,3 juta ton naik dari jumlah hasil tanam tebu tahun lalu yang sebesar 13,7 juta ton.
Saat ini secara nasional kebutuhan gula dalam negeri sekitar 6,6 juta ton. Dari jumlah tersebut sekitar 3,1 juta ton untuk gula konsumsi dan 3,5 juta ton untuk gula industry. Sementara yang bisa dipenuhi dari produksi gula nasional baru mencapai 45 persen.
“Propinsi Jatim memegang peran sangat penting. Sebab dari 36 pabrik yang dikelolah SGN, sebanyak 24 pabrik ada di Jatim. Karena itu, Jatim berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produksi gula nasional. Karena itu pula direksi SGNI tetap berkantor di sini (Surabaya),” pungkas Aris. (fix) Editor : Administrator