RADAR SURABAYA – Hari ini, Senin (9/3), harga minyak dunia kembali melonjak tajam. Hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent tercatat di USD 113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di USD 113,25 per barel.
Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Pergerakan harga menunjukkan percepatan yang sangat cepat dalam dua pekan terakhir.
Brent yang masih berada di USD 70,85 per barel pada 25 Februari 2026, naik tipis ke USD 72,48 (27 Februari 2026) sebelum melonjak ke USD 77,74 (2 Maret 2026) dan USD 81,4 (3-4 Maret 2026).
Setelah itu reli semakin tajam dengan harga menyentuh USD 85,41 (5 Maret 2026), melonjak ke USD 92,69 (6 Maret 2026), dan akhirnya menembus USD 113,68 pagi ini.
WTI bergerak serupa, dari USD 65,42 pada 25 Februari 2026 menjadi USD 113,25 hari ini.
Lonjakan ini memperpanjang reli minyak setelah pekan lalu minyak mentah Amerika Serikat tercatat melonjak sekitar 35 persen dalam satu minggu, yang disebut sebagai kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak 1983.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama lonjakan harga.
Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global, terutama karena dampaknya terhadap Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak global biasanya melewati selat sempit tersebut.
Sejumlah produsen di Timur Tengah juga mulai menekan produksi.
Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pemangkasan produksi dan output kilang sebagai langkah pencegahan setelah Iran mengancam keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Gangguan pasokan juga datang dari Irak. Tiga pejabat industri mengatakan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak turun sekitar 70 persen menjadi hanya 1,3 juta barel per hari.
Sebelum konflik memanas, ladang-ladang tersebut memproduksi sekitar 4,3 juta barel per hari.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan tengah mengelola produksi minyak lepas pantai secara hati-hati.
Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyebut operasi produksi darat masih berjalan normal, namun kapasitas penyimpanan mulai menjadi perhatian akibat gangguan distribusi.
Secara teknikal, analis pasar melihat reli minyak masih berpotensi berlanjut.
Dalam analisis Reuters, harga Brent berpotensi bergerak ke kisaran USD 120 hingga USD 128 per barel, sementara WTI berpotensi mendekati level puncak 2022 di sekitar USD 130,50 per barel, apabila krisis geopolitik saat ini terus berlanjut.
Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat masih optimistis situasi di Selat Hormuz dapat segera membaik.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal tanker diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa minggu ke depan setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan.
Namun ia mengingatkan bahwa kondisi pasar energi saat ini masih jauh dari stabil. (cnb/opi)
Editor : Nofilawati Anisa