Bekasi – Kebab Endul merupakan pelaku usaha Food & Beverages yang berlokasi di Kota Bekasi, Jawa Barat. Berdiri sejak 2020, usaha ini berfokus pada produk frozen food dengan ragam pilihan, mulai dari kebab mini, kebab daging, hingga kebab bandeng tanpa duri berbasis ikan lokal yang tinggi protein. Variannya pun beragam, seperti kebab keju, kebab ayam, hingga kebab rendang.
Selain produk kebab frozen, Kebab Endul juga mengembangkan lini produk lain seperti tahu bakso dengan aneka topping. Diversifikasi produk tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk anak-anak, dengan model penjualan hybrid. Pemasaran dilakukan melalui outlet EnduLicious Kebab, pameran, suplai ke segmen HORECA, toko frozen, serta kemitraan. Di sisi digital, Kebab Endul memanfaatkan marketplace, jaringan reseller, dan media sosial.
Pemilik Kebab Endul, Aisyah Ratna Wulandari, menjelaskan bahwa usaha ini berawal dari kebutuhan menyediakan camilan sehat dan bekal praktis bagi keluarga di masa pandemi 2020. Berangkat dari produksi rumahan, Kebab Endul perlahan berkembang menjadi usaha dengan jaringan reseller dan kemitraan di sejumlah kota.
“Saya memulai usaha Kebab Frozen Endul dari dapur rumah saat pandemi. Waktu itu, banyak ibu rumah tangga dan ibu pekerja kesulitan menyiapkan camilan dan bekal praktis untuk keluarga. Dari situ saya melihat peluang untuk menghadirkan kebab frozen yang praktis, lezat, dan tetap bergizi. Perlahan, usaha rumahan ini berkembang hingga kini juga memiliki brand EnduLicious Kebab untuk outlet siap saji dan jaringan reseller serta kemitraan di beberapa kota,” ujar Aisyah.
Seiring peningkatan kapasitas produksi, Kebab Endul mulai menerapkan konsep Zero Waste Product sebagai upaya mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai tambah. Sisa pinggiran kulit kebab yang sebelumnya berpotensi terbuang awalnya dimanfaatkan sebagai camilan keluarga dan dibagikan ke lingkungan sekitar. Inovasi tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk camilan kering Keripik ChipBab yang diluncurkan pada 2022.
Dalam proses pengembangan usaha, Aisyah mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi, mulai dari kenaikan harga bahan baku, ketatnya persaingan pasar, perubahan preferensi konsumen, hingga keterbatasan sumber daya manusia dan permodalan ketika permintaan meningkat.
Untuk memperkuat fondasi bisnis, Aisyah memanfaatkan LinkUMKM, platform pemberdayaan UMKM dari BRI, sejak menjadi bagian dari UMKM binaan Rumah BUMN Jakarta. Menurutnya, platform tersebut berperan sebagai sarana evaluasi berkala untuk memantau arah dan tahapan pertumbuhan usaha.
“Saya pertama kali mengenal dan mulai menggunakan platform LinkUMKM sejak menjadi bagian dari UMKM binaan Rumah BUMN Jakarta. Menurut saya, platform ini sangat membantu dalam memetakan posisi serta perkembangan usaha. Melalui berbagai fitur yang tersedia, saya sering memanfaatkan fitur self-assessment untuk mengetahui sejauh mana skala bisnis meningkat dari tahun ke tahun. Fitur tersebut juga membantu saya mengenali potensi dan kekurangan yang perlu dibenahi, seperti kebutuhan sertifikasi halal dan aspek legalitas lainnya,” ujarnya.
LinkUMKM merupakan platform pemberdayaan UMKM dari BRI yang dapat diakses melalui situs linkumkm.id maupun aplikasi di Play Store. Platform ini dirancang untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas dan kapabilitas bisnis melalui berbagai fitur, seperti UMKM Smart untuk rekomendasi pengembangan berbasis skoring, Coaching Clinic sebagai ruang konsultasi dengan mentor dan coach profesional, serta Etalase sebagai etalase digital guna memperluas eksposur produk.
Selain itu, LinkUMKM juga terhubung dengan Rumah BUMN, dilengkapi fitur Komunitas untuk memperkuat jejaring antarpelaku usaha, serta kanal Media yang menyajikan informasi, kisah inspiratif, dan infografis seputar pengembangan UMKM.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan kisah Kebab Endul mencerminkan pemanfaatan LinkUMKM secara nyata dalam memetakan kebutuhan penguatan usaha, memperluas akses pembelajaran dan pendampingan, serta mendorong perluasan pasar secara lebih terukur.
“LinkUMKM kami rancang untuk membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas usaha melalui pemetaan kondisi bisnis, pembelajaran yang aplikatif, serta akses jejaring dan pasar. Melalui proses tersebut, pelaku usaha dapat menyusun prioritas pengembangan secara lebih terukur, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar usaha hingga perluasan kanal pemasaran sesuai tahap pertumbuhan. Ke depan, BRI mendorong UMKM Indonesia untuk naik kelas dan semakin berperan dalam perekonomian nasional,” pungkas Akhmad.
Editor : M Firman Syah